Tangga Kesempurnaan


Perbuatan baik adalah yang membuat hatimu tentram
Sedang perbuatan buruk adalah yang membuat hatimu gelisah
-Rasulullah Saw-

Dengan kebaikan, aku mengerti setiap bentuk kebahagiaan dan segala penyebabnya
Dengan kejahatan,aku mengerti setiap bentuk penderitaan
– Baruch Spinoza-

images
Selain Nahjul Balaghah –kitab kumpulan hikmah Imam Ali Bin Abi Thalib As, kitab lain yang menjadi kitab tertua sekaligus kitab yang sangat berharga dalam dunia syi’ah adalah kitab Shahifah Sajjadiyyah. Kitab peninggalan Imam Ali Bin Husain Bin Ali As. ini adalah kumpulan doa-doa yang muktabar sanad maupun kandungan isinya. Dalam doa-doa beliau terdapat beberapa bagian tentang sikap yang seharusnya (akhlaki islami) dimiliki oleh seseorang dalam Islam.
Salah satu doa Imam Zainal Abidin As. dalam shafihah beliau bernama doa Makarimul Akhlak, yang berarti doa kemuliaan budi pekerti dan akhlak. Ungkapan seperti ini terdapat dalam riwayat Nabawiah yang mAsyhur di kalanga Ahlus Sunnah, “Aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.” Adapun dalam redaksi yang diriwayatkan oleh kalangan Syi’ah berbunyi, “Hendaklah kalian berakhlak mulia, karena sesungguhnya Tuhanku mengutusku untuk itu”
Salah satu petikan doa beliau dalam makarimul akhlak, “Ya Allah, sampaikan salawat kepada Muhammad dan keluarganya. Bimbinglah aku untuk melawan orang yang menghianatiku dengan ketulusan. Membalas orang yang mengabaikanku dengan kebajikan. Memberi orang yang bakhil kepadaku dengan pengorbanan. Menyambut orang yang memusuhiku dengan hubungan kasih sayang. Menentang orang yang menggunjingku dengan pujian. Untuk berterima kasih atas kebaikan dan menutup mata dari keburukan”
Perbuatan baik mana yang tidak terdapat dalam setiap amal-amal beliau? Hikmah-hikmah mana yang tidak menyejukkan dan membebAskan kebingungan dari setiap hati yang tidak terdapat dalam ketinggian ilmu manusia agung ini? Tapi kenapa mAsih saja beliau berdo’a? ini pAsti beliau lakukan, agar para pengikut beliau dan umat manusia, senantiAsa menghiAsi diri dengan makarimul akhlak sebagaimana beliau.

Imam Ali As. dalam perang Shiffin
Dalam perang Shiffin, dua pAsukan muslim berhadapan, satu di pihak Imam Ali As, khalifah muslimin setelah terbunuhnya Ustman Bin Affan, di pihak lain bersama Mu’awiyah Bin Abi Sufyan.
Seorang pengikut Imam Ali kebingungan, Ia tidak tahu bagaimana harus menyebut orang-orang Islam di seberang sana. “Apakah mereka orang-orang kafir?” tanyanya kepada Imam Ali. “Tidak,” kata Amirul Mukminin ini. “kalau begitu, mereka orang–orang munafik.” “Tidak juga, sebab orang munafik hanya sedikit sekali berzikir.” “Kalau begitu bagaimana kita harus menyebut mereka?” “Mereka adalah saudara kita, yang berbeda paham dengan kita.” Ujar Imam Ali As.
Kurang lebih 1400 tahun setelah peristiwa Shiffin, di Iraq pengikut-pengikut Imam Ali dibantai secara sadis, tubuh-tubuh mereka dicabikkan bom, bukan hanya di jalan-jalan tapi di tempat ibadah dan ziarah sekaligus – terbukti kemudian, bahwa itu dilakukan oleh kaum muslim golongan mazhab yang lain yang tidak menyenangi syi’ah-syi’ah Ali.
Ribuan kaum muslim syahid dalam pengeboman-pengeboman di sejumlah tempat di Iraq. Tapi, dengarlah pernyataan dan seruan Ayatullah Ali As-Sistani, marja’ taklid muslim syi’ah di Iraq. “Kita tidak akan membalAs, sekali pun setengah dari kita terbunuh!”
Mereka adalah saudara kita. Lihatlah, pintu kota ilmu RAsulullah telah mengajarkan kepada kita kalimat yang paling indah. Meskipun beliau mengerti betul, bahwa kebenaran ada pada pihak beliau. Konflik-konflik sesama umat Islam, dari sebatAs propaganda sampai agitasi. Tak segan-segan kita menuduh saudara-saudara kita yang berbeda pandangan dengan kita dengan tuduhan-tuduhan menyesatkan, pengkafiran, sampai menghalalkan darah mereka. Pokoknya, siapa yang tidak sesuai dengan pandangan kita maka ia sesat, kafir……halal darahnya….
Tapi lihatlah pada panglima dan pemegang panji Islam di setiap peperangan yang fasih dan paling dalam ilmunya ini. Terhadap pembelotan umatnya, atas perang yang dipaksakan terhadap beliau, kepada seluruh sahabat Nabi Saw dan orang Islam yang menyerang dan bermaksud membunuh beliau, beliau sambil tersenyum berucap dalam kedalam hikmah; “mereka adalah saudara-saudara kita!”
Setelah bait doa di atas, Imam Ali Zainal Abidin As bershalawat kepada Nabi Muhammad Saw dua kali. Kemudian meneruskan doanya sebagai berikut, “Tuhanku, hiasilah diriku dengan perhiasan orang-orang shaleh, berilah aku busana orang-orang bertakwa.” Hiasan apakah yang ingin dikenakan oleh Imam As-Sajjad As? pakaian bagus apakah yang beliau berhasrat memakainya?
Dalam bait-bait berikut sang Imam menegaskan, “Menebar keadilan, menahan amarah, memadamkan api (permusuhan) yang berkobar, mempersatukan perpecahan, mendamaikan pertengkaran, menebarkan kebaikan dan menyembunyikan keburukan, memelihara kelembutan dan kerendahan hati.”

Rasulullah Saw. dan orang kafir
Serombongan orang kafir bertamu kepada Rasul Allah Saw. Nabi membagikan para tamu itu kepada para sahabatnya. Semuanya sudah dibawa sahabat ke rumah-rumah mereka, kecuali seorang. Ia tertinggal di masjid. Tubuhnya luar biAsa besar. Rasul mengambil dia sebagai tamunya. Ia ditempatkan di sebuah rumah. Ia memakan habis makanan untuk porsi 18 orang. Ia minum habis susu yang diperah dari 7 ekor kambing. Pelayan marah karena ia menelan semua makanan dengan rakus. Ia meninggalkan rumah itu dan mengunci pintunya dari luar.
Di tengah malam, sang raksasa terdesak untuk buang hajat. Perutnya sakit. Ia bermaksud keluar, tetapi menemukan pintu terkunci. Dengan berbagai cara ia berusaha membuka pintu. Setelah berulang-ulang gagal ia merayap ke tempat tidurnya. Pada waktu itu, “desakan alam” tak dapat ditahan lagi. To take number one- ia mengeluarkan kotoran di rumah. Berbagai perAsaan berkecamuk di hati: malu, terhina, bingung, takut. Sepanjang malam itu, ia memAsang kupingnya, berharap mendengar pintu dibuka.
Menjelang subuh, ia mendengar pintu terbuka, ia melompat ke luar. Ia ingin melarikan diri dari semua derita dan rAsa malunya. Ia tak tahu bahwa yang membuka pintu adalah Nabi al-Mushtafa. Nabi sengaja menyembunyikan dirinya, agar orang itu tidak malu dengan apa yang dilakukan di rumahnya.
Di pagi hari, seorang sahabat mengantarkan tikar yang pernah ditiduri orang kafir itu. “Lihat, ya Rasulullah, apa yang telah diperbuat tamu itu.” Nabi mengambil tikar itu sambil tersenyum dengan senyuman rahmatan lil’alamin, “Ambilkan air. Biar kotoran ini aku bersihkan,” ujar Nabi. Para sahabat meloncat. “Demi Allah, jangan! Biarlah tubuh dan jiwa kami jadi tebusanmu, ya Rasulullah. Wahai, yang disapa Tuhan dengan la- ‘amuruk (Qs. 15:72). Kami sepatutnya berkhidmat kepadamu. Kalau engkau yang melakukan perkhidmatan apa jadinya kami.” “Aku tahu,” ujar Nabi. “Tetapi ini peristiwa luar biasa. Aku punya alasan mengapa aku harus melakukannya.”
Beberapa saat kemudian, orang kafir itu sadar bahwa ia kehilangan azimatnya. Ia menduga azimatnya itu tertinggal di rumah Nabi, meski rasa malunya besar, ketakutan kehilangan barang berharganya lebih besar lagi. Dengan jantung bergetar, ia menelusuri jalan kembali. Dan di situ, ia menyaksikan pemandangan yang meluluh lantakkan hatinya. Tangan Tuhan sedang membersihkan kotoran yang dibuangnya. Ia menjerit pilu. Ia memukul kepalanya sambil berkata, “Duhai kepala yang tak punya pengertian,” Ia memukul dadanya dan berkata “Duhai dada yang tak memperoleh cahaya.”
Ia mengadahkan kepalanya ke langit, tetapi mengalamatkan ucapannya kepada Nabi, “Wahai, yang karenanya diciptakan seluruh alam semesta! Engkau begitu rendah hati mematuhi perintah Tuhan. Aku tidak punya muka lagi untuk melihatmu, duhai qiblat dunia!.” Tak henti-hentinya ia meraung, menjerit dan gemetar. Tangan agung yang telah membersihkan kotoran itu menepuk-nepuk tubuhnya, menentramkan hatinya, dan membuka matanya.
Bagi Imam Ali, berbeda pendapat dengan orang lain bukanlah alasan untuk mengkafirkan. Kehormatan kaum muslimin lebih berharga dari pada hanya sekedar mengejar kekuasaan. Rasulullah, di depan Ka’bah pernah berkata: “Duhai Ka’bah, betapa mulianya engkau, tapi kehormatan kaum muslimin lebih mulia lagi.”
Kepada kita Imam Ali Zainal Abidin mengajarkan do’a itu. Agar kita menjadi Ali di medan perang dan menjadi Rasul dalam perkhidmatan. Tebarlah keadilan, tahanlah amarah, padamkanlah api (permusuhan) yang berkobar, persatukanlah perpecahan, damaikan pertengkaran, dan tebarlah kebaikan.![]

________________________________________
* . Penulis adalah santri program S1 jurusan Fiqh & Ma’arif Islami, di Seminari Fiqh wa Ma’ârif Islâmi, Qum

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s