Menggugat Hadits


Dalam beberapa hal, ketika berbicara tentang hadits dan kritik terhadapnya, sering kali kita salah memposisikan diri, obyek, dan wilayah obyek yang kita kritisi. Hadits dan Rasulullah adalah suatu hal, sahabat dan periwayatan adalah suatu hal yang lain. Memposisikan mereka sama adalah salah, meskipun memisahkan satu sama lain secara total juga adalah keliru.rak-kitab
Hadits, sebagai salah satu sumber hukum terpenting setelah al-Qur’an sering kali menjadi “korban tak berdosa” disidang, diadili, sekaligus “dieksekusi” tanpa melalui “pengadilan” yang sewajarnya. Hadits memang a history , sebab sampainya kepada kita harus melalui 1426 tahun, -sebuah rentang waktu yang tidak sedikit dan memang sangat memungkinan “banyak” pertanyaan atas validitas dan eksistensinya- tapi bukankah apa yang datang dari Rasulullah itu adalah nilai-nilai agama? Bukankah qaul, fi’il dan iqrar beliau adalah hujjah mutlak? Lantas, kenapa masih kita kritik? Kenapa kalau dikritik? Apa yang dikritik? What’s wrong!?
Bagaimana dengan Rasulullah sendiri? Bagaimana harusnya kita melihat, menilai dan bersikap terhadap beliau? Apa pentingnya? Pertanyaan-pertanyaan tersebut tentu saja sangat penting dan urgent untuk dijawab. Sebab tanpa mengetahui pasti siapa Rasulullah, akan sangat riskan bila kita taken for granted segala apa yang –katanya- datang dari beliau? Kita misalnya menerima, bahwa beliau adalah penyampai wahyu, tapi siapa dan apa yang bisa menjamin bahwa yang disampaikan itu adalah benar, tidak berubah dan bisa kita pegang? Pandangan yang benar terhadap beliau akan sangat menentukan ‘kesetiaan’ kita pada beliau dan ajaran yang beliau bawa.

Pandangan dan sikap terhadap Rasulullah Saw
Rasullullah adalah pengemban amanah Ilahi untuk mengeluarkan dan membimbing manusia menuju kebahagiaan di dunia dan akhirat. Rasulullah diutus untuk memberi petunjuk kepada manusia tentang mana yang boleh dan mana yang tidak boleh dilakukan (agama adalah akomulasi hukum boleh dan tidak boleh dilakukan). Sebagai pendahuluan marilah kita tengok pandangan golongan kaum muslimin dalam melihat, menilai, bersikap terhadap Nabi yang paling akhir ini.
Segolongan kaum muslim berpendapat, Rasulullah Muhammad Saw adalah manusia pilihan dan yang paling mulia dari seluruh mahluk dan seluruh Nabi. Beliau adalah manifestasi tertinggi Allah Swt di bumi. Beliau suci dari segala kesalahan dan dosa. Beliau wajib diikuti dari segala sisi karena beliau adalah “Tuhan” di muka bumi ini. Segolongan yang lain berpendapat bahwa, kemaksuman Rasulullah hanya pada waktu dan kondisi tertentu saja, jadi sangat sikonsif! Yang lain berpendapat Rasulullah boleh jadi salah, tapi kesalahan Beliau tidak dihitung dosa sebagaimana kita. Kata yang lain, Muhammad bin Abdillah memang seorang Nabi, tetapi sebagai basyar ia bisa keliru, salah sekaligus berdosa.
Kita cukupkan dulu menyebutkan golongan-golongan dan komentar dan pendapat mereka, sekarang marilah kita komentari setiap komentar dan membedah pendapat mereka. Kita mulai secara acak –atau yang kami anggap paling mudah ehm!-
Pertama; Rasulullah Saw Boleh jadi salah tapi kesalahan beliau tidak dihitung dosa sebagaimana kita. Salah satu ciri dan menjadi bukti terjadinya kesenjangan sosial dalam masyarakat jahiliyah, adalah berlakunya system riyasat dan nasabiyah. Orang-orang arab jahiliyah menjadikan headleader dan keturunannya sebagai “berhala” yang harus didahulukan kepentingannya dari yang lain. Hak-haknya, hak-hak keluarga dan anak-cucunya harus menjadi prioritas untuk ditunaikan. Dari segi hukum, mereka adalah untouchable group, mereka adalah jaksa, hakim, sekaligus eksekutur, hukum dan hukuman datang dari mereka, itu pun hanya berlaku untuk orang lain. Hukum hanya berlaku bagi outsider saja. Islam datang dan menjadi resistensi prilaku jahiliyah seperti ini. Kepada rasul-Nya, Allah Swt. memerintahkan wa qumu linnasi bil qist, sedang Rasul sendiri ‘bersumpah’ seandainya Fathimah, anakku, mencuri niscaya akan aku potong tangannya. Agama diturunkan untuk cita-cita penegakkan keadilan dan meratanya kesejahteraan dalam kehidupan sosial. Semangat ini menentang dispensasi cultural atas penegakan keadilan.
Hukum dan keadilan adalah universal view. Semua dinaungi sekaligus semua dilingkupi. Kalau pada satu golongan atau person nilai ini diterapkan, kenapa untuk yang lain tidak? Kalau kita bisa bersalah dan karena itu pasti berdosa, kenapa Rasulullah tidak? Kalau seandainya putri kesayangan Rasulullah Saw. bersalah, beliau pasti menghukumnya, kenapa kalau Rasulullah Saw ‘salah’ Allah Swt tidak menghukum beliau.!?
Pendapat kedua; Rasulullah Saw. maksum dalam situasi dan kondisi tertentu saja. Yakni ketika menerima dan menyampaikan wahyu, di luar itu, Muhammad bin Abdillah adalah manusia biasa seperti saya dan anda. Permasalahan pendefenisian Rasulullah Saw. atau Rasul sebagai Muhammad dan Muhammad adalah Rasul menjadi permasalahan yang sangat penting. Kenabian adalah maqam ‘prestasi’, maqam yang hanya bisa dicapai oleh mereka yang ‘berprestasi’ dalam perjalan menuju, melewati dan sampai pada maqam-maqam tertentu dan tertinggi. Prestasi mempersyaratkan usaha dalam mencapainya, jadi, di sini adalah perjalanan proses, perjalanan kasbiy. Setiap mukmin mempercayai, bahwa hanya dengan meningkatkan keimanan, manusia akan jauh dari dosa dan dekat kepada Allah Swt. keimananlah satu-satunya yang dapat meningkatkan manusia dari manusia biasa menjadi manusia-malaikat yang jangankan untuk berbuat dosa, berbuat dosa saja tidak akan pernah terlintas dalam benaknya.
Dan Muhammad Saw Telah sampai ke maqam itu. Manusia biasa itu telah menjadi super manusia, jauh berbeda, dan sangat jauh melebihi manusia biasa. Kita adalah manusia tapi kita tidak menerima wahyu, kita semua memang manusia, tapi Muhammad bin Abdillah adalah Rasul –tentang maqam rasulullah akan dibahas sekaligus dengan pendapat golongan ketiga di mukaddimah ke 2-.

Pandangan dan sikap terhadap Sahabat Nabi Saw.
Selanjutnya kita akan tour ke dunia sahabat, mencoba menjelajah ke kehidupan mereka pada beberapa periode kehidupan mereka sejak bersama Rasul sampai khulafa ar-Rasyidin. Kenapa sahabat? Seperti Rasulullah, sahabat adalah kunci penting dalam membuka khasanah keilmuan Islam, terutama berkaitan dengan hadits. Bukankah sahabat adalah ville pertama untuk sampai kepada Rasulullah Saw.? Mereka adalah generasi pertama yang langsung berinteraksi dengannya. Bagaimana dengan posisi sahabat terhadap hukum dan penentuan hukum, apakah mereka hujjah tasyri’iyah sebagaimana Rasulullah Saw.?
Pandangan terhadap mereka kita rampung dalam dua golongan besar. Kesatu; sahabat sebagaimana Rasulullah Saw Adalah sumber hukum, sebab mereka adalah khaerul qurun dan dididik langsung oleh Rasullah Saw Sehingga akhlak mereka adalah akhlak Rasul. Mereka mengetahui dasar-dasar agama sebab di masa mereka al-Qur’an diturunkan. Mereka adalah generasi wahyu sehingga mereka betul-betul memahami al-Islam, dan berdasarkan itu semua pula maka, seluruh sahabat adalah adil. Mereka tidak boleh dikritik dan dipertanyakan! Man sabba ashhaby fa huwa kâfirun, Anda kafir bila “menjahili sahabat”.! Pandangan kedua; sahabat itu harus dipilah dan dipilih, sahabat bima huwa si A, si B, Si……adalah sahabat yang bima huwa huwa, tidak boleh disamakan dengan Rasul. Dari dua pendapat inilah, kita memulai tour kita. Bagaimana menjawab dua penyataan di atas? Dengan kritik historis !

Kritik Historis
Dalam kritik konvensional hadits, ada beberapa metode umum yang dapat digunakan, tapi kami akan mengambil kritik historis dan logis sebagai pembahasan, sebab menurut kami, kritik historis adalah kritik yang sangat ‘netral’ dan ‘mendamaikan’ kritik sanad dan matan hadits.
Terkadang ada hadits yang posisi sanadnya sempurna, tapi matannya tidak, Terkadang juga sebaliknya. Ada yang dua-duanya bagus tapi, memiliki banyak versi terkadang malah saling menegasikan, atau dari peristiwa, orator –rawi-, yang dicerita dengan riwayatnya, bertentangan dengan apa yang dinyatakan oleh sejarah. Sebagai contoh; Abu Hurairah berkata “Nabi Muhammad Saw bersabda pada pamannya Abu Thalib, ‘katakanlah bahwa tidak ada Tuhan kecuali Allah, dan aku akan bersaksi untukmu di hari akhir, tapi paman Beliau menolak’…di tempat lain Abu Huraira berkata, “Nabi Saw. bersabda kepada pamannya menjelang wafat, ‘katakanlah bahwa tidak ada tuhan kecuali Allah dan aku akan bersaksi padamu di hari akhir.’ Tapi paman beliau menolak.
Abu Thalib meninggal dunia pada tahun ke-10 kenabian Saw. yaitu tiga tahun sebelum Hijrah. Jadi, ia meninggal sepuluh tahun sebelum Abu Hurairah datang ke Hijaz. Bagaimana mungkin Abu Hurairah bertemu dengan Nabi dan menyaksikan wafatnya paman beliau. Lalu kenapa Abu Hurairah meriwatkan seakan dia hadir dan menyaksikan langsung peristiwa tersebut? Di sinilah kritik historis itu dibutuhkan.!
Rasulullah atau sahabat?
Kamis, 24 Safar 11 Hijriyah, di kediaman Rasulullah Saw. Muslim, Imam Ahmad, Thabari, Ibnu Atsir, menceritakan kejadian itu. Nabi bersabda “Berikan kepadaku sebuah pena dan tinta atau kertas dan tinta, aku akan tuliskan kepada kalian sebuah tulisan yang dapat membuat kalian tidak akan tersesat selamanya.” Mereka berkata “Sesungguhnya Rasulullah meracau.”
Bukhari juga meriwayatkan, Rasulullah Saw bersabda, “berikan kepadaku sebuah kitab, aku akan menuliskan sebuah tulisan yang akan membuat kalian tidak akan tersesat selamanya.” Umar Bin Khattab berkata, “Rasulullah sakit parah, sedangkan kita memiliki kitabullah yang cukup menjadi pegangan kita.” Orang-orang lalu berselisih dan bertengkar, setelah itu rasulullah berkata, “pergilah dariku, tidak patut kalian bertengkar di tempatku…” Dalam Tadzkiratul Khawwash, Kasyf Ma Fid Darayain serta Sirrul ‘Alamin tertulis, ….Sesungguhnya Umar Bin Khattab berkata, “Sesungguhnya Nabi Meracau….”
Seandainya anda berada di rumah Rasulullah ketika itu, apa yang akan anda lakukan? Mengikuti pendapat sahabat, dan meninggalkan Rasulullah, atau anda akan setia di sisi Rasulullah Saw.?

Sahabat dan sahabat
Di padang Karbala, Yazid Bin Mu’awiyah membantai sahabat-sahabat Rasul, membunuh keluarga dan cucu tersayang dari putri belahan hati Rasulullah, al-Husain, salah satu penghulu pemuda surga. Mu’awiyah Bin Abi Sofyan meracuni al-Hasan, memerangi lelaki yang paling pertama beriman, pahlawan garis terdepan dan pembawa panji perang Rasul, Amirul Mukminin Ali Bin Abi Thalib kr. Dalam peperangan ini seratusan sahabat dan ribuan muslimin gugur.
Aisyah Binti Abi Bakar, bersatu dengan Thalha dan Zubaer, memerangi Imam Ali. Lagi-lagi sejumlah sahabat saling bunuh dan banyak yang gugur dalam peperangan ini. Abu Dzar, di-tab’id (exiled, diasingkan) oleh Ustman Bin Affan dan wafat dalam pengasingan tersebut. Ustman terbunuh! Yang membunuh juga sahabat! Semua adalah sahabat, sahabat yang memerangi sahabat, sahabat yang membunuh sahabat. Mana yang harus diikuti? Satu diikuti dan yang lain ditinggalkan? Dua-duanya ditinggalkan? Atau dua-duanya diikuti?

Mana yang harus di ikuti?
Permasalahannya menjadi semakin jelas, sahabat sebagai hujjah tidak memiliki dasar syar’i untuk diikuti. Juga tidak satu pun ayat dan riwayat yang mengatakan bahwa seluruh sahabat adil, tidak ada kita temukan atsar bahwa ketika sahabat dan Rasul berselisih kita ‘boleh’ mengikuti sahabat dan meninggalkan Rasul. Tidak juga kita jumpai bahwa apabila sesama sahabat berbeda pendapat –bahkan saling mengkafirkan dan menumpahkan darah- meninggalkan satu dan mengambil yang lain adalah dosa!
Yang sangat jelas dalam ayat dan riwayat adalah…. Ikutilah Rasul bila anda orang yang benar bertaqwa…tak ada pilihan lain untuk diikuti apabila Rasulullah telah menetapkan sebuah hukum…. kembalikanlah urusan kalian kepada Allah dan Rasul-Nya…tidak ada pilihan lain selain mengikuti Rasulullah Saw.!

Tentang Hadits dan Batasan Penilaiannya
Sejumlah hadits sampai pada kita dalam face yang beragam. Dari yang bercerita tentang cinta sampai azab, dari berita gembira tentang surga sampai nestapa neraka. Ada yang disabdakan dalam format hukum, ada dalam kelembutan akhlak, dari ilmu pengetahuan yang tinggi sampai TBC –takhayyul, bid’ah, churafat- yang tidak logis sama sekali.
Jalan pertama menuju kritik-sebagaimana yang Rasul ajarkan- adalah mengkomparasikan semangat hadits dengan jiwa al-Qur’an. ‘apa saja yang dinisbahkan kepadaku bila sejalan dengan ruh al-Qur’an maka ambillah, bila bertentangan, maka tolaklah’! (al-hadits). Dalam hadits di atas, Rasulullah menjadikan Kitab Allah selain sebagai neraca penetralisir, lebih dari itu harus menjadi ukuran dasar nilai dan menilai hadits. Selanjutnya, Rasulullah Saw, yang menyanjung penggunaan akal dalam ajaran yang beliau bawa, ‘la dina liman la ‘aqla lah’ adalah metode yang harus digunakan. Badihiyat al-‘Aqliyah, sekaligus dengan metode kritik hadits kenvensional harus dipergunakan. Terkahir, sebuah hadits tidak boleh berseberangan dengan dharuriyyat as-syar’iyah as-stabit wal maqtu min as-sunnah as-syari’ah. Walahu’allam bi as-shawab![]

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s