Mengenal Said Ramadhan Al-Bauthy


Dekat penguasa bukan berarti menjilat. Ia memanfaatkan kedekatan itu dalam rangka amar makruf nahi munkar. Ketika kecil Muhammad Said Ramadhan Al-Buthy tinggal di perbatasan Iraq-Suriah-Turki, bersama ayahnya tercinta, Syaikh Mulla Ramadhan Al-Buthy. Karena kekhalifahan Al-Utsmani jatuh, lalu Ataturk berkuasa, dan memerangi syariat Islam, maka Syaikh Mulla mengajak Al-Buthy hijrah ke Damaskus.

Sejak tinggal di Damaskus, Al-Buthy langsung digembleng ayahnya sendiri, yang merupakan ulama besar waktu itu. Saat usianya menginjak sekolah dasar, sang ayah mengajarkan sejarah Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam dengan kitab Dzakhirah Al-Labib fi Ma’rifati Al-Habib. Setiap hari sang ayah juga mengajarkan tafsir al-Qur`an hingga 5 sampai 6 ayat. Dalam ilmu nahwu, sang ayah juga mewajibkan Al-Buthy menghafal bait-bait Alfiyahnya Ibnu Malik, hingga mampu menghafalnya kurang dari satu tahun. Dan dalam usia belum baligh, dia sudah hafal Nadzam Ghayah wa At-Taqrib karya Al-Imrithi yang jumlahnya lebih dari seribu bait.
Mengenang-Sosok-Said-Ramadhan-Al-Buthy
Baca lebih lanjut

Iklan

Waspadai Gerakan Wahabi Kontemporer


Belakangan ini kembali merebak gerakan umat Islam Indonesia yang dipengaruhi oleh gerakan Islamisme di Timur Tengah. Dalam konteks historis, hubungan Islam Timur Tengah dengan Islam Indonesai bukanlah hal baru, tetapi telah terjadi sejak ratusan tahun lalu. Namun, jika dulu hubungan tersebut punya kecenderungan intelektualisme, kini hubugan itu cenderung radikalisme baik baik dalam bidang pemikiran hingga konflik di lapangan. Satu hal yang menjadi benang merah, gerakan tersebut mengusung kembali tema-tema yang digaungkan oleh salafisme dan wahabisme. Karenanya sejarah kemunculan gerakan salafisme kontemporer suatu hal yang menarik untuk ditelusuri. Pada kesempatan ini, redaksi menurunkan tulisan ahli tentang gerakan salafi dan wahabi kontemporer yang mempengaruhi gerakan radikalisme di Timur Tengah hingga Indonesia.
Waspadai-Gerakan-Wahabi-Kontemporer.jpg Baca lebih lanjut

10 Fakta Tentang Hasan Nasrullah


1. Sayid Hasan Nasrullah bin Abdulkarim Nasrullah lahir di pemukiman miskin Bazuriyah, pada 31 Agustus 1960 di Beirut Lebanon Selatan.
2. Ayahnya Abdul Karim Nasrullah adalah seorang pedagang sayuran dan buah-buahan.
3. Sayyid Hasan Nasrullah memiliki 3 saudara laki-laki dan 5 saudara perempuan, ia anak paling besar dari keluarga itu.
4. Sayyid Hasan Nasrullah di masa kecilnya sangat mengagumi sosok imam Musa Sadr.
5. Sayyid Hasan Nasrullah pada umur 16 tahun memulai pendidikan hauzawinya di Najaf Asyraf.
6. Sayyid Muhammad Garawi (seorang imam masjid kota shur) yang telah memberi motivasi dan dorongan untuk menuntut ilmu di Najaf.
7. Sayyid Hasan Nasrullah pada tahun 1989 pergi ke Qum-Iran untuk melanjutkan pelajaran hauzahnya, dan setahun kemudian atas permintaan dewan syura hizbullah ia kembali ke Baerut.
8. Sayyid Hasan Nasrullah pernah bertemu dengan Imam Khumaini ar, imam mengangkat sayyid hasan sebagai wakilnya di Libanon dalam urursan ke bangsaan dan syariat.
9. Sayyid Hasan Nasrullah pernah menjabat sebagai Sekjen Olahraga gerakan Amal.
10. Sayyid Hasan Nasrullah selalu menjauh dan menghindar dari perkumpulan orang-orang kaya.

Kutipan tulisan Deni Siregar
sangat layak untuk dibaca…
10-Fakta-Tentang-Hasan-Nasrullah.jpg
Baca lebih lanjut