Apakah Mukjizat Merusak Sistem Alam Semesta?


Apakah_mukjizat_merusak_sistem_atau_membatasi_sistem_yang_lain?
Sebagaimana yang telah kita ketahui bahwa hukum sebab-akibat adalah hukum aqli yang tidak dapat berubah-ubah. Dan setiap dari keberadaan di alam semesta ini –merupakan keteraturan sistem dan kekuasaan tuhan –dalam lingkup hukum-hukum universal yang permanen dan pasti –yang membentuk sistem yang lebih baik –yang menemukan kedudukan wujudnya. Pertanyaannya adalah di manakah letak kedudukan mukjizat sebagai bagian dari peristiwa-peristiwa alam dalam sistem tersebut?
Walaupun sebagai pandangan sederhana bawah mukjizat adalah perkara yang luar biasa. Akan tetapi keluar biasaan ini tidak melazimkan kontradiksi dengan hukum-hukum yang pasti. Karena terealisasinya setiap hukum-hukum takwini (cipta) dalam sistem mata rantai hirarki alam semesta bergantung pada terwujudnya obyek (Maudhu’) dan terciptanya kondisi tertentu serta hilangnya penghalang, yang semua ini juga merupakan hasil dari hukum-hukum yang lain. Dengan kata lain, sebagaimana peletakan hukum-hukum wadh’i dan tasyri’i sesuai dengan kondisi, obyek (maudhu’) dan ketiadaan penghalang memungkinkan sebuah hukum mencegah terjadinya obyek hukum lain, dan terealisasinya salah satu dari hukum-hukum takwini juga memungkinkan hilangnya obyek hukum yang lain atau membatasinya.
Berdasarkan keistimewaan-keistimewaan yang ada memungkinkan obyek sebuah hukum memiliki syarat-syarat dan halangan-halangan yang lebih sedikit, pada akhirnya lebih banyak terwujud. Sedangkan hukum lain yang memiliki syarat-syarat dan halangan-halangan yang lebih banyak, pada akhirnya lebih sedikit terwujud. Akan tetapi tidak ada perbedaan setiap kali tercipta sebuah obyek dari hukum-hukum tersebut sesuai dengan sunnatullah yang pasti dan tetap.
Adapun kita membagi peristiwa-peristiwa menurut terjadi atau tidaknya pada da’im al-wuqu’, aktsari al-wuqu’, aqal al-wuqu dan musawi al-wuqu adalah sebuah pembagian yang relatif dan dengan membandingan satu dengan lainnya. Namun, jika kita renungkan kembali setiap hukum sesuai dengan syarat-syaratnya akan menjadi senantiasa (da’imi) terjadi dan pasti . Baca lebih lanjut

Iklan

Quran dan Hukum Kausalitas


Analisa Aqli dan Quran
Quran_dan_Hukum_Kausalitas
Dengan memperhatikan hukum-hukum aql, kami menyaksikan hukum kausalitas dan kesesuian antara sebab dan akibat, yang menjadi pertanyaan apakah menerima konsep mukjizat tidak akan menciptakan kekacauan pada sistem kausalitas? Dan pada akhirnya, apakah mukjizat persoalan yang mungkin terjadi atau mustahil? Sebagaimana yang kami saksikan dalam menjawab persoalan ini, sekelompok orang di samping menyakini mukjizat dan kekuasaan mutlak tuhan, juga mengimani kepastian hukum kausalitas. Sementara sekelompok lainnya di samping menetapkan kesistematisan alam semesta dan kekokohannya, juga mengingkari mukjizat dengan takwilan dan pembenaran tertentu. Akan tetapi dengan mengkaji satu persatu menjadi jelas bahwa konsekuensi pandangan-pandangan tersebut tidak ada satupun darinya yang dapat terwujud antara dua hakikat yang tidak diragukan keharmonisan dan kedamaiannya. Baca lebih lanjut

Ketetapan Sunnahtullah


Ketetapan_Sunnahtullah
“Maka sekali-kali kamu tidak akan mendapat penggantian bagi sunnah Allah, dan sekali-kali tidak (pula) akan menemui penyimpangan bagi sunnah Allah itu” (Fathir: 43).
Beberapa ayat lain yang berhubungan dengan sunnatullah (hukum cipta Allah) juga dijadikan sebagai bukti. Kurang lebih kita mempunyai 10 ayat yang membicarakan bahwa sunnatullah tidak berubah. Menurut mereka mukjizat (bermakna adat; Baca kebiasaan) merupakan misdaq dari sunnatullah yang tidak dapat berubah berdasarkan kejelasan ayat Quran.

Kritik
1. Perdebatan penafian perkara di luar kebiasaan –sebagaimana yang telah dikaji –merupakan faham naturalis yang menyakini bahwa setiap keberadaan terbatas pada perkara-perkara tabi’i dan materialis serta dapat diketahui secara empiris. Persoalan mendasar mereka adalah sebelum berhubungan dengan pengetahuan eksistensi, terlebih dahulu berhubungan dengan epistemologi. Jawaban pandangan ini telah dibahas dalam pembahasan imkan ‘ijaz dan pernyataan para ahli ilmu empirik.
Dari sisi lain seseorang tidak dapat dikatakan beriman pada agama para Nabi, kitab-kitab langit dan Quran, dikarenakan meragukan mukjizat para Nabi sebagai fenomena-fenomena pasti untuk membuktian kenabian, sebagaimana Quran berulang kali menjelaskan hal itu. Sedangkan keberadaan mukjizat bagi para Nabi as merupakan keharusan dalam agama islam dan Quran.
Mukjizat Nabi Ibrahim as, “Kami berfirman: “Hai api menjadi dinginlah, dan menjadi keselamatanlah bagi Ibrahim” (Al-Anbiyaa: 69). Baca lebih lanjut

Membatasi Kekuasaan Tuhan


Membatasi_Kekuasaan_Tuhan
Asya’irah memberikan perhatian khusus mengenai kekuasaan tuhan. Dan mereka juga menafikan peranan sebab-sebab kedua dan hukum-hukum pasti, dalam rangka menjaga kekuasaan mutlakNya. Sudah sepatutnya kita di sini lebih merenungkan lagi, apakah jika kita mengatakan keteraturan alam semesta berarti membatasi kekuasaan tuhan? Kemudian bagaimana dengan kekuasaan dan perbuatan tuhan dengan memperhatikan ketidak terbatasan dzat dan sifat-sifat dzatiNya? Apakah terbatas atau tidak? Jika terbatas, apakah keterbatasan ini di luar atau di dalam? bagaimanapun juga apakah keterbatasan itu melazimkan kekurangan (naqs) atau tidak? Baca lebih lanjut

Hubungan Kekuasaan Tuhan dengan Perbuatan Buruk


ramazan_by_hasankaz.jpg
Keyakinan mu’tazilah dan imamiyah dalam masalah ini adalah kekuasaan tuhan tidak terbatas, dan iradah ilahiah pada dasarnya hanya berkaitan dengan sisi kesempurnaan dan kebaikan segalah sesuatu. Karena berdasarkan devinisi qudrah (kekuasaan; Pencipta akan melakukan apa yang ia kehendaki dan meninggalkan apa yang dia tidak kehendaki) tidak keluar dari dua hal, melakukan atau meninggalkannya. Jika kehendak tuhan berkaitan dengan perbuatan, maka perbuatan itu menjadi wajib bil gair dan dharuri, yakni mustahil tidak akan terealisasi. Akan tetapi jika kehendakNya tidak berkaitan dengan perbuatan, maka perbuatan itu dikarenakan tidak ada penyebab menjadi mumtani’ bil gair, dan tidak akan pernah terealisasi. Dengan demikian pengertian kuasa (qudrah) bukan berarti perbuatan pasti akan terealisasi, akan tetapi mencakup dua dimensi melakukan atau meninggal perbuatan itu. Adapun kehendak yang kaitanya dengan salah satu dari dua hal yang kontradiksi, yakni keberadaan sesuatu atau ketiadaanya lebih membatasi kekuasaan ruang iradah dan perbuatan. Baca lebih lanjut

Kebengisan Sikap dan Kekakuan Hati Kaum Salafi Wahhâbi !!


Abu Salafy

Persembahan Buat “Para Mujahidîn” Berhati Batu!

Kekakuan Hati Adalah Dosa Terakhir

Syeikh Hasan bin Fahrhân Al Maliki Mengeluhkan Kedunguan Dan Kekakuan Hati Ekstrimis Salafi Wahhâbi

Sebelum membaca artikel dibawah saksikan video kebrutalan  “mujahidin/mujahilin”  salafy wahhabi (al Qaedah) yang membantai dokter, perawat dan pasien di Rumah Sakit Yaman, dalam serangan bulan Desember 2013 yang lalu

.

SUMBER:http://almaliky.org/news.php?action=view&id=440

hasan_FarhanDari pemandangan memilukan di rumah sakit Yaman dan meladakkan kepala-kepala kaum wanita dan bocah-bocah tak berdosa dengan pelor aku duduk merenung dalam kesendirian jiwaku. Aku bertanya-tanya: “Menagapa semua kekakuan hati dan kerendahan mental ini?”kemudian aku teringat bahwa dosa terakhir bani Israil (Yahudi) yang tidak diampuni Allah adalah KEKAKUAN HATI. Penyembahan kepada patung anak sapi sekali pun Allah ampuni mereka. Tetapi ketika hati-hati mereka menjadi kaku berakhirlah kesempatan diberi udzur… kita senantiasa butuh untuk selalu memperhatikan keselamatan hati kita dari kekakukan seperti itu. Ia adalah dosa terakhir bani Israil yang tidak…

Lihat pos aslinya 1.199 kata lagi

Wahabi dan Ghulu


abu_Hanifah_Ghulu_Ahlisunnah
Ghulu merupakan sebuah penyakit yang menggrogoti tatanan kehidupan manusia, yang menjadi bencana keterbelakangan dan keterpurukan manusia. Ghulu lahir bersamaan dengan lahirnya manusia, sebagai sebuah fenomena sejarah yang tidak akan pernah terpisahkan. ghulu adalah menyakini manusia atau sesuatu melebihi batas kewajaran, seperti :
1. Menyakini Isa al-Masih sebagai tuhan atau anak tuhan.
2. Menyakini bunda Maryam sebagai sesembahan manusia.
3. Menyakini Ali bin Abi Thalib sebagai pencipta manusia dan pengendali alam semesta.
4. Menyakini Ibrahim putra Rasulullah saw yang wafat pada masih kecil, sebagai penyebab terjadinya gerhana matahari dan bulan.
5. Menyakini fatwa fulan mujtahid mendapatkan legalitas imam zaman dan terhindar dari kesalahan.
6. Menyakini sebuah pohon sebagai tempat meminta hajat.
7. Menyakini matahari sebagai satu-satunya maujud yang patut di sembah, karena matahari adalah sumber cahaya dan lambang kehidupan.
8. Menyakini kesucian sungai gangga di India, dan barang siapa yang mandi disana akan mendapatkan keberkahan, melebur dosa-dosa dan hajatnya terkabulkan.
9. Menganggap suci sapi jenis tertentu, layak untuk disembah dan kotorannya adalah keberkahan.

keyakinan-keyakinan extrim seperti ini terkadang didapati secara turun temurun dan tak jarang dari mereka yang memiliki keyakinan seperti ini, bersikap ifrad bahkan lembaran-lembaran sejarah berkuah darah menjadi saksi bisu, demi mempertahankan keyakinannya atau berkurban demi sesuatu yang disembahnya.
Baca lebih lanjut