Nabi Ibrahim dan Hukum Kausalitas


Nabi-Ibrahim-dan-Hukum-KausalitasSebelum menjawab pertanyaan ini, kami ingin Anda memperhatikan sebuah subyek yang telah ditetapkan secara ilmiah dan saintifik:

Kita ketahui bahwa “air” pada esensinya adalah musuh “api” dan air dapat digunakan sebagai sebaik-baik media untuk memadamkan api. Namun air ini, yang terdiri dari rangkapan dua unsur hydrogen (H2O) dan oksigen (O2), apabila dengan bantuan katalisator, kita bagi menjadi dua unsur konstruktif (dan terpisah satu dengan yang lain), yaitu salah satunya (hydrogen) maka unsur ini akan menjadi bahan peledak apabila bersentuhan dengan api. Demikian juga, dengan unsur lainnya (oksigen) yang akan menyebabkan nyala api semakin berkobar; artinya dua unsur ini, tepatnya melakukan aktifitas persis kebalikan dari air yang rangkapannya dapat memadamkan api. Hal ini secara ilmiah tidak bertentangan dengan hukum kausalitas.

Baca lebih lanjut

Iklan

Pemberhalaan Makan Wali


1. Penistaan makam wali-wali sebagai berhala dalam buku pelajaran sejarah adalah bukti kita jangan cuma menyoroti ISIS tapi juga ISISisme.

2. Ini bukti bahawa isisisme menyusupi sentra-sentra strategis. ISIS di Suriah dan Irak hancurkan makam nabi dan wali karena dianggap berhala.

3. Karena merasa satu-satu kelompok yang bertauhid, pengikutnya menganggap semuanya  Muslim lain tercemari syirik,bid’ah dan khurafat.

4. Karena menganggap nyekar makam wali dan pahlawam sebagai menyembah berhala, kelompok ini menganggap selainnya sebagai musyrik dan sesat.

5. Sekte horor ini meradikalisasi korban-korbannya dengan menciptakan doktrin halusinasi musuh bahwa selain mereka menodai tauhid.

6. Dengan doktrin halunisasi bahwa umat Islam terjangkiti syirik dan bid’ah, sekte gurun ini menganggap Sunni dan Syiah sesat.

7. Sekte ini mudah menyusupi masyarakat karena 1)Mengenakan kedok Ahlussunah malah mengklaim sunni asli minus bid’ah dan syirik.

8. 2) Sekte ini menampilkan Arabisme terutama Saudisme (yang mnguasai Mekah dan Mdinah) untuk mempengaruhi awam yang silau dengan simbol.

9. 3) Meski sering menuduh Syiah bertaqiyah gerombolan ini royal dalam taqiyah. Kadang tampil soft berupa partai yang “bersih”.

10. 3) Sekte ini menawarkan agama dalam bentuk yang tegas (hitam-putih) mudah (doktrinal) dan praktis (minus logika).

11. Teologi pensyirikan dan pengkafiran inilah sumber ekstremisme, intoleransi dan kekerasan di dunia Islam.

12. Pemberhalaan makam wali dalam buku pelajaran sejarah juga materi pensyirikan ziarah di beberapa TV harus jadi alarem waspada.

13. Skripturalisme dengan jargon Quran, Sunnah dan salaf dengan mudah menyebar dan mempengaruhi pelajar dan mahasiswa yang lugu.

14.Doktrin pensyirikan ziarah makam adalah penistaan terhadap humanitas. Masyarakat Barat pun menghormati pahlawan dan jiwa.

15.Pemberhalaan makam-makam wali adalah prolog bagi penghancuran situs-situs sejarah dan budaya. Inilah yang saya maksud dengan isisisme.

16. Isisisme lebih luas dari ISIS. Banyak yang menyatakan menolak ISIS tapi menganut isisisme yang berciri pengkafiran dan kekerasan.@MuhsinLabib

 

Benarkah Adam Generasi Kedelapan?


penciptaan-adam-manusia-pertamakahDengan memanfaatkan al-Quran dan riwayat-riwayat secara pasti dapat dikatakan bahwa sebelum Nabi Adam terdapa generasi atau beberapa generasi yang mirip dengan manusia  disebut sebagai “insan atau bangsa Nisnas” meski terkait dengan hal-hal detilnya,  tipologi personal dan model kehidupan mereka, kita tidak memiliki informasi yang akurat.

Allamah Thabathabai berkata, “Dalam sejarah Yahudi disebutkan bahwa usia jenis manusia semenjak diciptakan hingga kini tidak lebih dari tujuh ribu tahun lamanya…namun para ilmuan Geologi meyakini bahwa usia genus manusia lebih dari jutaan tahun lamanya. Mereka menyuguhkan sejumlah argumen untuk dari fosil-fosil yang menyebutkan bahwa terdapat peninggalan manusia-manusia pada fosil-fosil tersebut. Di samping itu, mereka juga membeberkan dalil-dalil skeleton (tengkorak) yang telah membatu milik manusia-manusia purbakala yang usianya masing-masing dari fosil dan skeleton itu ditaksir, berdasarkan kriteria-kriteria ilmiah, kira-kira lebih dari lima ratus ribu tahun. Demikian keyakinan mereka. Namun dalil-dalil yang mereka suguhkan tidak memuaskan. Tidak ada dalil yang dapat menetapkan bahwa fosil-fosil ini adalah badan yang telah membatu milik nenek moyang manusia-manusia hari ini. Demikian juga tidak ada dalil yang dapat menolak kemungkinan ini bahwa tengkorak-tengkorak yang telah membatu ini berhubungan dengan salah satu dari periode manusia-manusia yang hidup di muka bumi, karena boleh jadi demikian adanya, dan boleh jadi tidak. Artinya periode kita manusia-manusia boleh jadi tidak bersambung dengan periode-periode fosil-fosil yang telah disebutkan, bahkan boleh jadi berhubungan degan manusia-manusia yang hidup di muka bumi sebelum penciptaan Adam Bapak Manusia (Abu al-Basyar) dan kemudian punah.  Demikian juga kemunculan manusia-manusia yang kepunahannya berulang, hingga setelah beberapa periode tibalah giliran generasi manusia masa kini.[1]

Baca lebih lanjut

Tanduk Setan


tanduk-setan-bukhari

Shahih al-Bukhâri, sebagai kitab induk hadis Ahlusunnah telah menukil sebuah riwayat yang kandungannya berbunyi bahwa Rasulullah Saw menunjuk ke arah rumah A’isyah sambil mengucapkan kata-kata dan mengulanginya sebanyak tiga kali: “Di sinilah fitnah, di sinilah fitnah, di sinilah fitnah! Dari sinilah munculnya tanduk setan”.[1]

Teks hadis semacam ini, tidak kami temukan dalam kitab-kitab induk hadis Syi’ah (Al-Kâfi, al-Tahdzib, al-Istibshâr, dan Man La Yahdhuruhu al-Faqih). Sementara dalam kitab-kitab sekunder Ushul Syi’ah, seperti Bihârul al-Anwâr, riwayat tersebut dapat kita temukan, tetapi itu pun hanya menukil dari kitab Shahih Ahlusunnah.[2].

Dengan demikian, maka kaum Syi’ah tidak dapat memberikan jawaban berdasarkan riwayat tersebut dan tidak dapat menyingkap syubhat (keraguan) yang ada.

Terdapat beberapa kemungkinan atas riwayat semacam ini sebagai berikut:

1.     Berkaitan erat dengan peristiwa perang Jamal yang terjadi pasca wafat Rasulullah Saw dimana penggerak utama perang tersebut adalah A’isyah.

2.     Tidak menjadikan rumah A’isyah sebagai objek. Dan isyarat Nabi Saw itu ditujukan kepada suatu tempat yang kebetulan rumah A’isyah terdapat di tempat tersebut. Karena di dalam riwayat yang lain –yang juga terdapat di dalam kitab Shahih Ahlusunnah- disebutkan bahwa fitnah itu muncul dari arah timur[3].

Jika kita mengamati letak geografis rumah A’isyah yang berhubungan dengan mimbar Rasulullah Saw dalam masjid Nabawi, dapat kita pahami bahwa jika beliau Saw duduk di atas mimbarnya, maka rumah A’isyah itu terletak di sebelah timur beliau.

3.     Bisa juga Rasulullah Saw dengan ucapannya yang sederhana itu ingin memberikan isyarat kepada kedua hal di atas. Yang jelas perlu juga diketahui bahwa rumah A’isyah itu pada hakikatnya adalah rumah Rasulullah Saw juga.[IQuest]


[1] . Shahih al-Bukhâri, jil. 4, hal. 46, Dar al-Fikr, Beirut, 1401 H.

[2] . Muhammad Baqir Majlisi, Bihâru al-Anwâr, jil. 32, hal. 287, Yayasan al-Wafa’, Beirut, 1404 H.

[3] . Sehubungan dengan masalah ini, silahkan lihat jawaban atas Pertanyaan 7252 (situs: 7472).

Kisah dari PARIS


Sebab hijrahnya Imam Khomeini ke Paris kembali pada sejumlah kejadian yang terjadi beberapa bulan sebelum diambilnya keputusan ini. Ketika perjuangan masyarakat Iran mencapai puncaknya, pemerintah Iran dan Irak melakukan pertemuan berkali-kali di Bagdad dan mencapai kesimpulan bahwa aktivitas Imam Khomeini tidak saja membahayakan Iran tapi juga membahayakan Irak. Perhatian masyarakat Irak terhadap Imam Khomeini dan semangat dan simpati para peziarah Iran merupakan sesuatu yang tidak bisa diabaikan begitu saja oleh pemerintah Irak.

 Imam_Khumaini_Islam

Oleh karena itulah Agha Doai dipanggil oleh pemerintah Irak untuk menyampaikan pandangan Dewan Revolusi Irak secara gamblang kepada Imam Khomeini. Agha Doai kemudian menjelaskan pandangan pemerintah Irak kepada Imam Khomeini yang kesimpulannya sebagai berikut:

  Baca lebih lanjut

Imam Ali Ridho as dan Wilayah Ishq


Imam-Ali-Ridho-as-dan-Wilayah-Ishq

Najmah Khatun, ibu Imam Ali bin Musa ar-Ridha as berkata, “Ketika aku mengandung anakku, sama sekali aku tidak merasakan kesulitan. Ketika tidur, aku mendengar suara tasbih dan puja-pujian kepada Allah Swt dari dalam tubuhku. Aku terbangun dalam ketakutan, namun kemudian aku tidak lagi mendengar suara tasbih tersebut. Ketika anakku lahir, tangannya diletakkan ke tanah dan wajah sucinya menghadap langit, mulutnya terbuka dan ia mengatakan sesuatu yang aku tidak pahami. Kemudian aku mendatangi Imam Kadhim as. Beliau berkata, “Semoga Allah melimpahkan kehormatan kepada mu. Saat itu, Imam Kadhim mengumandangkan azan di telinga kanan sang bayi dan melantunkan iqamah di telinga kiri. Selanjutnya beliau memberikan anak tersebut kepadaku. Kemudian Imam Kadhim berkata, ambillah anak ini, sesungguhnya ia adalah simpanan Allah di muka bumi dan hujjah-Nya setelah ku.”

Imam Ali bin Musa ar-Ridha as dilahirkan di Madinah pada tanggal 11 Dzulqadah tahun 148 Hijriah. Ayahnya adalah Imam Musa al-Kazhim as dan ibunya adalah Najmah Khatun. Setelah Imam Kazhim as syahid, ia dalam usia 35 tahun mulai memegang tali kepemimpinan umat, menegakkan ajaran-ajaran agama dan membimbing umat manusia. Masa keimamahan Imam Ridha as adalah dua puluh tahun. Sepuluh tahun pertama masa kepemimpinan beliau bertepatan dengan masa pemerintahan Harun ar-Rasyid. Setelah masa tersebut, Imam Ridha as memimpin umat selama lima tahun di masa pemerintahan Amin, putra Harun. Sementara lima tahun kedua, kepemimpinan beliau bertepatan dengan masa pemerintahan Makmun al-Abasi, saudara Amin.

Baca lebih lanjut

Sholatlah Kalian Sebagaimana Aku Sholat “Rasulullah Saw”


Sholat-Nya-Rasulullah
Salat merupakan ibadah terpenting seorang Muslim yang telah banyak ditegaskan dalam al-Quran terkait dengan pelaksanaanya. Namun demikian, terkait dengan rincian tata cara salat tidak disebutkan dalam al-Quran dan penjabaran dari tata cara rincian salat itu diletakkan di pundak Rasulullah Saw.
Ibadah ini, paling tidak, dikerjakan sebanyak lima kali sehari semalam. Karena merupakan ibadah harian tentu saja kaum Muslimin sedikit banyaknya tahu tentang salat dan tidak terdapat perbedaan yang berarti terkait dengan inti pelaksanaannya. Namun demikian, terdapat beberapa perbedaan partikular pada sebagian bagian-bagian salat di antara firkah-firkah Islam.
Riwayat-riwayat yang terkait dengan salat dan syarat-syaratnya dalam kumpulan riwayat Ahlusunnah; seperti Shahih Bukhari[1] dan Shahih Muslim[2] disebutkan secara terpisah dengan judul Kitâb al-Shalâhdan bagian-bagian lainnya yang saling berhubungan.

Baca lebih lanjut