Makna “Bari’tu IlaLlâh wa Ilaikum Minhum”


Dalam redaksi kalimat ziarah Asyura disebutkan, “Bari’tu ilaLlâh wa Ilaikum minhum” Pertanyaan yang mengemuka adalah apa makna berlindung kepada Allah atau kepada para Imam Maksum ini? Memangnya orang berlindung kepada orang tertentu?
Jawaban

Barâ’at secara leksikal bermakna berpisah, menjauh, membenci seseorang atau sesuatu. Makna ini suatu waktu tanpa ila (tujuan) namun apabila disertai dengan redaksi ila (tujuan) maka di samping bermakna menolak juga mengandung makna berlindung dan berlepas diri. Karena itu, makna redaksi ziarah adalah aku berlepas diri dari Bani Umayyah dan orang-orang terlaknat lainnya yang disebutkan dalam doa ziarah, dan berlindung kepada Allah Swt dan kepada kalian Ahlulbait As.[1]


[1]. Sayid Ali Khan Madani Syirazi, Riyâdha al-Sâlikin, Syarh Shahifah Sajjadiyah, Raudhah 12, Intisyarat Risalat, Bazar-e Isfahan, Pasaz ‘Alawi.

Iklan

Kejahatan Khalid Bin Walid Al-Makhzumi


kejahatan-khalid-bin-walidKhalid bin Walid Membunuh Malik bin Nuwairah, Lalu Menikahi Isterinya Di antara “para penakwil” itu ialah (Abu Sulaiman) Khalid bin Walid (Al-Makhzumi). Dialah pembunuh Malik bin Nuwairah bin Hamzah At-Tamimi pada peristiwa “Al-Bithah”, dan langsung menikahi bekas istrinya, Ummu Tamim binti Al-Minhal, yang tergolong wanita tercantik di antara kaum wanita masa itu.

Kemudian Khalid pulang kembali ke Madinah seraya menancapkan beberapa anak panah di surbannya. Melihat itu, Umar bin Khaththab r.a. segera mencabut dan mematahkannya, lalu berkata kepadanya (sebagaimana tercantum dalam Tarikh Ibn Atsir dan lainnya): “Engkau telah membunuh seorang Muslim, lalu engkau memperkosa istrinya! Demi Allah, akan kurajam engkau!” Kemudian ia memberitahukan tentang masalah itu kepada Khalifah Abu Bakar (seperti yang tertera pada buku biografi Watsimah bin Musa, dalam kitab Wafay Al-A’yn karya Ibn Khalikan): “Khalid telah berzina, rajamlah ia!” Namun Abu Bakar menjawab: “Aku tidak akan merajamnya. Ia telah ‘bertakwil’ dan keliru dalam takwilnya itu.” Umar berkata lagi: “Dan ia juga telah membunuh seorang Muslim. Bunuhlah ia sebagai hukuman atas perbuatannya itu!” Jawab Abu Bakar: “Tidak, aku tidak akan membunuhnya karena itu. Ia telah bertakwil dan keliru dalam takwilnya itu.”

Baca lebih lanjut