Syiah Ali bin Abi Tholib as


Syiah_Ali_Bin_Abi_Thalib_asKata syi’ah dalam terminologi bahasa arab berarti pengikut. Sebagaimana al-Quran mengatakan, وان من شيعته لابراهيم “Dan sesungguhnya Ibrahim benar-benar termasuk pengikutnya (Nuh as)”.[1]Adapun menurut istilah adalah golongan yang meyakini bahwa Nabi Saw sebelum wafatnya telah menetapkan seorang wasi atau pengganti yang akan memimpin kaum muslimin dalam berbagai kesempatan, seperti Rasulullah Saw telah mengangkat Ali as sebagai tempat rujukan kaum muslimin dalam masalah politik, ilmu dan agama pada tanggal 18 Dzulhijjah tahun 10 H yang terkenal dengan hari Gadir, dalam halayak ramai.

Namun sepeninggal Nabi Saw Muhajir dan Anshar pecah menjadi dua kelompok, yaitu ;

  1. Kelompok yang meyakini bahwa Nabi Saw tidak menyerahkan masalah kepemimpinan kepada umatnya, akantetapi beliau telah mengangkat seorang penggantinya, yaitu Ali bin Abi Thalib as. Orang yang pertama kali menyatakan keimanannya kepada Nabi Saw.

Kelompok ini terdiri dari Muhajir dan Anshar, Bani Hasyim serta sahabat-sahabat besar, seperti Salman, Abu Dzar, Miqdad, Khabab bin Irs dan lainnya. Mereka adalah orang-orang yang berpegang teguh dengan akidahnya dan menamakan dirinya sebagai syi’ah Ali as.

Sebenarnya julukan (syi’ah Ali) adalah pemberian Rasulullah Saw semasa hidupnya kepada para pengikut imam Ali as. Nabi Saw berkata kepada Ali as;

والذي نفسي بيده، ان هذا وشيعته لهم الفائزون يوم القيامة

“Demi jiwaku yang berada digenggamannya, sungguh Ali dan syiahnya adalah orang-orang yang beruntung di hari kiamat kelak”.[2]

Dengan demikian syi’ah adalah sekelompok dari kaum muslimin yang meyakini pengangkatan (pemimpin setelah Nabi Saw) secara nas pada era awal islam. Kelompok inipun sampai sekarang masih berpegang teguh dengan wilayah ahlulbait. Dari sini jelas bahwa syi’ah tidak seperti tuduhan-tuduhan serapah, yang mengatakan kemunculannya setelah masa-masa awal islam (setelah peristiwa Sagifah, setelah pembunuhan Utsman, pada peristiwa tahkim dll –penj ). Untuk lebih lengkapnya silahkan rujuk buku-buku sejarah syi’ah, seperti Asl al-Syi’ah wa Ushuliha, al-Muraja’at, ‘Ayan al-Syi’ah dan lain-lain.

  1. Kelompok yang lain meyakini bahwa khilafah adalah masalah syura yang diserahkan kepada kaum muslimin. Dari sini mereka membaiat Abu bakar, kemudia kelompok ini dikenal dengan ahlisunnah. Pada dasarnya kedua kelompok islam ini, masih ada banyak kesamaan pandangan. Adapun perbedaan yang sangat mendasar hanya pada masalah khilafah atau kepemimpinan setelah Nabi Saw. Dan kedua kelompok ini juga sama-sama terbentuk dari orang-orang Muhajir dan Anshar.

Sebagaimana yang telah kami singgung bahwa maqam khilafah adalah ketentuan nas. Keyakinan imamah setelah Rasulullah Saw sama seperti kenabian. Sebagaimana Allah mengangkat dan memilih Nabi Saw, maka wasi juga harus ditententukan dan dipilih oleh Allah SWT.

sejarah menjadi saksi bahwa Rasulullah sepanjang hidupnya dalam beberapa kesempatan menetapkan Ali bin Abu Thalib as sebagai penggantinya. Di antaranya sebagai berikut;

  1. Awal Bi’tsah.

Sewaktu Rasulullah Saw mendapatkan perintah dari Allah SWT untuk menyeru (Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat”.[3]), dan mengajak kerabat terdekatnya kepada agama tauhid. Dalam kesempatan itu Rasulullah Saw berkata;

فأيكم يوازرني في هذا الأمر على ان يكون اخي ووزيري وخليفتي ووصيي فيكم

Siapakah di antara kalian yang akan membantuku dalam urusan ini dan dialah yang akan menjadi saudaraku, wasiku, dan khalifahku atas kalian”.

Ali bin Abi Thalib adalah satu-satunya orang yang menjawab panggilan malakuti tersebut. Kemudia Rasulullah Saw memandang semua kerabatnya, seraya berkata;

ان هذا أخي ووصيي وخليفتي فيكم فاسمعوا له وأطيعوا

“Sesungguhnya ini adalah saudaraku, wasiku dan khalifahku atas kalian. Maka dengarkanlah perkataannya, dan patuhilah”.[4]

 

  1. Perang Tabuk.

Rasulullah Saw berkata kepada Ali as;

اما ترضى ان تكون مني بمنزلة هارون من موسى الا انه لا نبي بعدي

“Adakah kamu ridha, kedudukanmu di sisiku seperti kedudukan Harun di sisi Musa. Hanya saja setelahku tidak ada seorang Nabi”.[5]Yakni sebagaimana Harun adalah wasi dan pemimpin setelah Musa as, kamu (hai Ali as) juga seorang khalifah dan pemimpin setelahku.

  1. Tahun Kedua Hijriah.

Rasulullah Saw setelah kembali dari haji wada’, di daerah yang dikenal dengan nama (Gadir Khum) mengangkat Ali as di tengah-tengah kaum muslimin sebagai wali dan pemimpin. Beliau Saw berkata;

من كنت مولاه فهذا علي مولاه

“Barangsiapa yang menjadikan aku sebagai walinya, maka (setelah ini) Ali as adalah wali dan pemimpinnya.

Perlu diperhatikan bahwa Rasulullah Saw mengawali perkataanya dengan kalimat, ألست أولى بكم من أنفسكم (bukankah aku lebih berhak atas diri kalian semua). Kaum muslimin seketika bangkit dan membenarkan perkataan Rasulullah Saw. Dengan demikian maksud Rasulullah Saw dari kata “maula” dalam hadis ini adalah maqam wilayat dan kepemimpinan atas seluruh kaum muslimin dan mukminin. Kesimpulannya bahwa Rasulullah Saw ingin menetapkan maqam kepemimpinan yang dia miliki kepada Ali bin Abi Thalib as.

Hasan bin Tsabit mengabadikan pristiwa Gadir dalam bait-bait syairnya, sebagai berikut;

يناديهم يوم الغديرنبيهم         بخم واسمع بالرسول مناديا

فقال فمن مولاكم ونبيكم ؟         فقالوا ولم يبدوا أهناك التعاميا

الهك مولانا وانت نبينا         ولم تلق منا في الولاية عاصيا

فقال له : قم يا علي فانني         رضيتك من بعدي اماما وهاديا

فمن كنت مولاه فهذا وليه         فكونوا له اتباع صدق مواليا

هناك دعا : اللهم وال وليه        وكن للذي عادى عليا معاديا[6]

Hadis Gadir adalah hadis yang telah mencapai derajat mutawatir, baik telah dinukil dari kalangan ulama syiah, maupun kalangan ulama sunni yang mencapai 360 orang.[7]Sanad hadis ini mencapai 110 orang sahabat dan 26 dari ulama besar telah menulis sanad hadis dan jalurnya dalam kitab khusus.

Abu Ja’far Thabari seorang sejarawan terkenal telah mengumpulkan sanad hadis Gadir dan jalurnya dalam dua jilid kitab. Untuk lebih lengkapnya silahkan lihat kitab Gadir.

 

[1] Al-Shafat, ayat 83.

[2] Jalaludin Suyuti, Dur al-Mansur jilid 6 dalam tafsiran ayat 7 surat al-Bayinah ( ان الذين امنوا وعملوا الصالحات اولئك هم خير البرية ).

[3] Al-Syura, ayat 214.

[4] Tharikh Thabari, jilid 2 hal. 62-63, Tharikh Kamil, jilid 2 hal. 40-41, Musnad Ahmad jilid 1 hal. 111, Syarh Nahj al-Balagah, Ibn Abi al-Hadid jilid 13 hal. 210-212.

[5] Ibn Hisyam, jilid 2 hal. 520, Ibn Hajar, al-Shawaiq al-Muhriqah cetakan ke-2 Mesir, bab 9, bagian ke-2 hal. 121.

[6] Al-Manaqib (Kharizmi Maliki) hal. 80. Tazkira Khawas al-Aimmah (Sabad Ibn Jauzi Hanafi) hal. 20. Kifayah al-Thalib hal. 17.

[7] Lihat kitab al-Shawaiq al-Muhriqah, Ibn Hajar, cetakan ke-2 Mesir bab 9 bagian ke-2 hal. 122.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s