Neraca Kemuliaan dan Kehinaan


QuranAllah Swt berfirman :

فَأَمَّا الإِنسَانُ إِذَا مَا ابْتَلاهُ رَبُّهُ فَأَكْرَمَهُ وَنَعَّمَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَكْرَمَنِ. وَأَمَّا إِذَا مَا ابْتَلاهُ فَقَدَرَ عَلَيْهِ رِزْقَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَهَانَنِ. كَلاَّ بَل لّا تُكْرِمُونَ الْيَتِيمَ

Adapun manusia apabila Tuhannya mengujinya lalu dimuliakan-Nya dan diberi-Nya kesenangan, maka dia berkata:” Tuhanku telah memuliakanku”. Adapun bila Tuhannya mengujinya lalu membatasi rezekinya maka dia berkata:” Tuhanku menghinakanku”. Sekali-kali tidak  demikian  sebenarnya kamu tidak memuliakan anak yatim,  (QS. Al-Fajr : 15-17)

Ayat-ayat diatas menjelaskan tentang asumsi mayoritas orang dalam dua keadaan yaitu saat kaya dan saat miskin. Lapangnya rizqi berlimpahnya harta menjadikan seseorang merasa rela dan senang. Ia menyangka itu pertanda bahwa ia dicintai oleh Allah Swt, dan merasa bahwa ia teristimewakan dari yang lainnya dan mulia disisi-Nya. Oleh sebab itu ia mendapat kenikmatan lebih.

Baca Selengkapnya Disini !!!

http://www.qurandanhadits.com/tolok-ukur-kemuliaan-dan-kehinaan/

Iklan