Wasiat Imam Ali bagi Umat Islam


“Putraku Hasan! Engkau dan seluruh anakku serta seluruh yatim dan orang yang menerima pesan ini, aku memberikan wasiat kepada kalian: Bertakwalah kepada Allah Swt dan jangan melupakannya. Berusahalah mempertahankannya hingga kematian menjemputmu. Kalian seluruhnya bersama-sama bersandar pada tali Allah. Bersatulah dalam keimanan dan jangan bercerai-berai. RasulullahSaw bersabda, ‘Mendamaikan sesama manusia lebih utama dari shalat dan puasa tanpa henti. Dan sesuatu yang dikecam dan ditolak dalam agama adalah kerusakan dan perpecahan,”.

Baca lebih lanjut

Iklan

Melawan Stereotype, Membangun Harmoni Sunni-Syi’ah


Kita sepakat bahwa baik Sunni dan Syia’h berbeda dalam beberapa hal. Tapi janganlah perbedaan itu menjadi alasan bagi kita untuk saling mengusir, melarang ibadah bahkan membunuh. Apalagi menggunakan legitimasi Tuhan dan ayat suci untuk menumpahkan darah “saudara” kita.

Penguatan isu perbedaan Sunni-Syi’ah yang selama ini terjadi di dunia Islam sejatinya memberikan pengaruh negatif dalam keberlangsungan persatuan ummat Muslim itu sendiri. Tariq Ramadan (2012), cucu dari Hasan al-Banna dalam sebuah kesempatan pernah menunjukkan betapa rapuhnya kita ummat Muslim dengan adanya isu ini. Saat masyarakat Lebanon berjuang melawan agresi militer Israel misalnya, pemerintah yang saat itu adalah Sunni tidak mendukung masyarakat karena menganggap mereka adalah Syiah. Hal yang sebaliknya juga terjadi di beberapa negara Timur Tengah lainnya.

Pembedaan Sunni-Syi’ah ini pada akhirnya menjadikan sebahagian ummat Islam memiliki kecendrungan untuk tidak menolong kelompok yang lain meski kelompok tersebut membutuhkan bantuan. Bahkan, perbedaan justru seringkali menjadi legitimasi terjadinya kekerasan atas kelompok yang berbeda.

Baca lebih lanjut

Kebenaran dan Minoritas


Jangan-Takut-Jadi-MinoritasMengetahui kebenaran atau kebatilan suatu golongan bukan dari sedikit atau banyaknya pengikut golongan tersebut. Seperlima dari penduduk bumi adalah orang-orang yang mengingkari kebenaran islam dan mayoritas dari penduduk asia timur adalah para penyembah berhala dan orang-orang yang mengingkari non materi.

Cina dengan jumlah penduduk melebihi 1 milyar berhaluan komunis dan kebanyakan dari penduduk India, yang mendekati angka 1 milyar adalah para penyembah berhala dan sapi.

Dengan demikian mayoritas bukan tolak ukur kebenaran. Al-Quran dalam ayat-ayatnya sering kali mencela mayoritas dan memuji kalangan minoritas. Dan kami di sini hanya akan menyebutkan beberapa contoh saja dari ayat-ayat tersebut;

  1. ولا تجد أكثرهم شاكرين, “Dan engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur”.[1]
  2. ان أوليائه الا المتقون ولكن أكثرهم لا يعلمون, “Sesunguhnya orang-orang yang berhak menguasai(nya), hanyalah orang-orang yang bertakwa, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahuinya”.[2]
  3. وقليل من عبادي الشكور, “Dan sedikit sekali dari hamba-hambaku yang berterimah kasih”.[3]

Baca lebih lanjut

Kenapa dalam Azan, Syiah Memberi Kesaksian pada Wilayah Ali as ?


Kenapa-dalam-Azan-Syiah-Memberi-Kesaksian-pada-Wilayah-Ali-as

Perlu diperhatikan beberapa hal di bawah ini, sebelum menjawab pertanyaan di atas;

  1. Para Fuqaha syiah dalam risalah amaliahnya, baik istidlali maupun bukan, selalu menjelaskan bahwa kesaksian atas wilayah Ali as tidak termasuk bagian azan. Dan tidak seorang pun berhak mengatakan kesaksian atas Ali as adalah bagian dari azan.
  2. Ali as menurut pandangan al-Quran adalah salah satu aulia Allah SWT. Sebagaimana al-Quran menjelaskan wilayahnya (kepemimpinan) atas kaum mukminin, yaitu;

إِنَّما وَلِيُّكُمُ اللهُ وَ رَسُولُهُ وَ الَّذينَ آمَنُوا الَّذينَ يُقيمُونَ الصَّلاةَ وَ يُؤْتُونَ الزَّكاةَ وَ هُمْ راكِعُونَ

Sesungguhnya pemimpinmu hanyalah Allah, rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman, yang mendirikan shalat dan menunaikan zakat, sedang mereka dalam keadaan rukuk.”[1]

Baca lebih lanjut

Salahkah Kita Mengucapan Salam Kepada Rasulullah?


salam-dan-sholawat-kepada-rasulullah

Sebenarnya kaum muslimin sepakat mengenai masalah ini. Rasulullah Saw pun mengajarkan kepada para sahabat cara mengucapkan shalawat. Sewaktu ayat ini turun, “Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikatNya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan uncapkanlah salam penghormatan kepadanya”.[1]Para sahabat bertanya, bagaimanakah cara kami bershalawat kepadamu ? Rasulullah Saw berkata, “Janganlah kalian bershalawat atasku dengan shalawat batra’ (tidak sempurna)”. Mereka bertanya, lalu bagaimana kami harus bershalawat ? Rasulullah Saw berkata, اللهم صل على محمد وعلى آل محمد .[2]

Syafi’i dalam bait-bait syairnya mengatakan tentang kedudukan keluarga Nabi Saw.

يا اهل بيت رسول الله حبكم         فرض من الله في القرآن انزله

كفاكم من عظيم القدر انكم           من لم يصل عليكم لا صلوة له

“Wahai Ahlu Bait Nabi Saw, kecintaan kepada kalian adalah wajib yang telah Allah tetapkan dalam Quran yang diturunkannya.

Kebesaran dan keagungan adalah ke dudukanmu, dan barang siapa yang tidak bershalawat kepada kalian, maka tidak diterima shalatnya”.[3]

[1] Al-Ahzab ayat 56.

[2] Al-Shawaiq al-Muhriqah, Ibn Hajar cetakan ke-2 Pustaka al-Qahira Mesir, bab 11 bagian ke-1 hal. 146. al-Dur al-Mansur jilid 5 tafsir surat al-Ahzab ayat 56, yang dikutip dari para muhadist dan kitab-kitab sahih dan musnad, seperti Abdul Razak, Ibn Abi Syabih, Ahmad, Bukhari, Muslim, Abu Daud, Turmuzi, Nasa’i, Ibn Majah, Ibn Mardawaih dinukil dari Ka’ab bin Ajrah dari Rasulullah Saw.

[3] Al-Shawaiq al-Muhriqah bab 11 hal. 148 dari bagian ke-1. Syabrawi, Itihaf hal. 29. Hamzav i Maliki Musriq al-Anwar , hal. 88. Zarqani, al-Mawahib dan Saban, al-Is’af hal. 119.