Rahasia Dakwa Nabi Saw


Rahasia_Dakwa_Nabi_SawRasulullah melakukan dakwah diam-diam dan sembunyi-sembunyi hanya kepada kerabat, keluarga dan beberapa orang-orang pilihan dari kalangan sahabat.
Adapun terkait dengan alasan mengapa melakukan dakwah secara sembunyi-sembunyi pada tiga tahun pertama dakwahnya, tidak disebutkan analisa tajam dan terang pada literatur-literatur standar sejarah dan riwayat. Namun apa yang segera terlintas dalam benak adalah bahwa alasan utama Nabi Saw melakukan dakwah sembunyi-sembunyi ini karena adanya rasa takut terhadap perlawanan sengit kaum musyrik dan bahaya yang akan mengancam dakwah Islam yang baru saja dimulai.
Hal ini dapat dijelaskan sebagai berikut.
Nabi Muhammad Saw melakukan dakwah sembunyi-sembunyi ini selama tiga tahun;[1] karena situasi dan kondisi kota Mekah belum kondusif untuk memulai dakwah secara terang-terangan. Beliau dalam tiga tahun ini melakukan dakwah sembunyi-sembunyi kepada orang-orang yang dinilai memiliki kesiapan untuk menerima. Rasulullah Saw mengajak mereka kepada tauhid dan penyembahan kepada-Nya serta kenabiannya. Dalam masa ini, Quraisy mengetahui klaim yang disampaikan oleh Nabi Saw dan tatkala mereka melihatnya di suatu tempat, mereka berkata, “Pemuda Bani Abdul Muthhalib berbicara sesuatu dari langit.”[2] Lantaran ia tidak menyampaikan klaimnya itu di hadapan khalayak ramai, mereka tidak mengetahui kandungan dakwah Nabi Saw karena itu mereka tidak menunjukkan reaksi apa pun. Baca lebih lanjut
Iklan

Al-Masih Putra Maryam


Al-Masih-Putra-MaryamNabi Isa As merupakan salah satu nabi besar Ilahi. Nama nabi besar ini berada pada jejeran empat nabi ulul azmi. Penciptaannya serupa dengan penciptaan Nabi Adam  As. Artinya Allah Swt menciptakan Nabi Isa As dari ibunya Maryam Uzara Sa yang merupakan seorang wanita salehah dan suci tanpa seorang ayah.[1]

Kelahiran
Kakek Nabi Isa As bernama Imran. Istrinya tatkala hamil bernazar bahwa ia akan menjadikannya sebagai pelayan di Baitul Muqaddas. Ia mengira bahwa jabang bayi yang ia kandung adlaah seorang bocah laki-laki. Namun, tatkala bayi itu lahir, ia melihat bahwa yang dilahirkannya adalah seorang bocah perempuan. Karena itu ia memberikan nama kepada bocah perempuan itu dengan nama Maryam. Setelah Maryam kian beranjak besar, ibunya mengirimnya ke Baitul Muqaddas untuk berkhidmat di sana.
Nabi Zakariyyah memikul tanggung jawab sebagai wali bagi Maryam. Selama itu, sedemikian Maryam menggondol derajat spiritual yang sangat tinggi sehingga Allah Swt mengirimkan makanan dari langit untuknya.[2] Namun selain Nabi Zakariyah terdapat orang lain yang merawat Maryam dan ingin memperoleh kehormatan dengan merawatnya; karena itu untuk memilih siapa yang dapat memperoleh kehormatan merawat Maryam diadakanlah undian dengan menggunakan pena-pena mereka. Hasil undian menunjukkan nama Nabi Zakariyah yang berhak merawat Maryam.[3]

Baca lebih lanjut

Penulisan Al-Quran


Penulisan-Al-QuranMengapa Al-Quran Ditulis Tidak Berdasarkan Urutan Turunnya Wahyu?

Terdapat tiga pendapat sehubungan dengan pengumpulan al-Quran:[1]

  1. Ayat-ayat setiap surah tatkala diwahyukan diturunkan secara sempurna dan sepanjang surah belum lagi tuntas maka surah yang lain tidak akan dimulai.
  2. Dari setiap surah terdapat ayat yang diturunkan dan secara gradual surah-surah akan sempurna. Pertanyaan yang mengemuka di sini adalah apakah penempatan ayat-ayat dalam beragam surah dilakukan berdasarkan perintah Rasulullah Saw atau hal ini dilakukan pada masa sahabat?
  3. Baik urutan ayat atau urutan surah dalam bentuknya yang sekarang ini telah berbentuk seperti itu pada masa sahabat.

Pendapat Pertama:

Suyuti dalam al-Ithqan mengutip sebuah riwayat yang menunjukkan bahwa Rasulullah Saw dan kaum Muslim dengan bermulanya “Bismillahi al-Rahman al-Rahim” menjadi tahu bahwa surah sebelumnya telah berakhir dan surah setelahnya (baru) bermula.[2] Nukilan ini secara implisit menunjukkan bahwa pada masa Rasulullah Saw turun dan diwahyukan secara sempurna.[3] Namun mengingat bahwa ulama bersepakat bahwa pada awal masa bi’tsat (pengutusan Rasulullah Saw), hanya beberapa ayat permulaan surah al-‘Alaq yang diturunkan[4] dan terkadang sebuah ayat diturunkan dan Rasulullah Saw menempatkannya pada surah yang sesuai dengan konteks ayat tersebut.[5] Karena itu asumsi ini adalah asumsi yang tidak dapat diandalkan.

Baca lebih lanjut

Saat Allah Tidak Mencipta


Allah-Tidak-MenciptaApakah ada suatu waktu Sang Pencipta tidak dapat meangaktualkan sifat penciptanya? Dengan kata lain, apakah ada suatu waktu dimana hanya ada Allah Swt di situ dan tiada satu pun yang ada? Dengan kata lain, apakah kondisi seperti ini dulunya ada dalam satu rentang waktu tertentu atau di masa akan datang? Apabila jawabannya positif, apakah kita akan berbicara tentang sebuah waktu dimana sifat-sifat seperti rahmat, kepenciptaan, keadilan, ihsan belum lagi ada untuk Tuhan pada waktu itu. Atau kita katakan sifat ini dulunya ada namun belum lagi teraktualisasikan. Lantas bagaimana pemilik sifat ini yang kita anggap sebagai jawad (maha pemberi) namun hampa sifat pemberian (jud) dan pencipta tanpa penciptaan? Apabila jawabannya negatif maka dalam hal ini apakah sifat azali dan abadi tidak dapat kita sandarkan pada makhluk-makhluk lainnya?

Baca lebih lanjut

AlKisah


Suatu hari Rasul Saw duduk di masjid & dikelilingi oleh para sahabat. Tak lama kemudian, datang seorg tua renta dg pakaian compang-camping
Usia tua & kelemahan badannya telah merenggut segala kekuatan yg dimilikinya. Rasulullah menghampirinya seraya bertanya tentang keadaannya
“Ya Rasulullah, aku org tua yg lapar, berikan aku makanan, aku telanjang, berikan aku pakaian, aku hidup menderita, tolonglah aku.” jwbnya
Kemudian Rasulullah berkata: “Aku sekarang tidak memiliki sesuatu yg dapat kuberikan kepadamu..
Akan tetapi, orang yang menunjukkan kepada suatu kebaikan, sebenarnya ia juga memiliki saham dalam kebaikan tersebut.”
Setelah berkata demikian, Rasulullah menyuruhnya untuk pergi ke rumah Sayyidah Fathimah.
Org tua itu kemudian pergi ke rumah Sayyidah Fathimah & menceritakan segala penderitaannya.
Sayyidah Fathimah berkata: “Aku pun sekarang tidak memiliki sesuatu yg dapat kuberikan kepadamu.”
Setelah berkata demikian, Sayyidah Fathimah melepas kalung yg dihadiahkan oleh putri Hamzah bin Abdul Muthalib kepadanya,
dan memberikannya kepada pria tua itu seraya berkata: “Juallah kalung ini, insya Allah engkau akan dapat memenuhi kebutuhanmu.”
Setelah mengambil kalung tersebut pria tua itu pergi ke masjid. Rasulullah masih duduk bersama para sahabat kala itu.
Pria tua itu berkata: “Wahai Rasulullah, Fathimah memberikan kalung ini kepadaku untuk dijual demi memenuhi segala kebutuhanku.
Rasulullah terisak menangis. Amar Yasir berkata: “Wahai Rasulullah, apakah Anda mengizinkan kalung ini kubeli?”
“Siapa yang membelinya, semoga Allah tidak mengadzabnya.” Jawab Rasulullah Saw singkat
Amar Yasir bertanya kepada pria tua itu: “Berapa kamu mau menjualnya?
“Aku akan menjualnya seharga roti & daging yg dpt mengenyangkanku, pakaian yg dpt menutupi badanku & 10 Dinar sebagai bekalku pulang.
Amar Yasir berkata: “Kubeli kalung ini dengan harga 20 Dinar emas, makanan, pakaian dan kuda sebagai tungganganmu pulang.”
Ia membawa pria tua itu ke rumahnya, lalu diberinya makan, pakaian, kuda dan 20 Dinar emas yang telah disepakatinya.
Setelah mengharumkan kalung tersebut dengan minyak wangi dan membungkusnya dengan kain, ia berkata kepada budaknya:
“Berikanlah bungkusan ini kepada Rasulullah, dan aku juga menghadiahkanmu kepada beliau.”
Rasulullah kemudian menghadiahkan kalung dan budak tersebut kepada putrinya, Fathimah.
Sayyidah Fathimah mengambil kalung tersebut dan berkata kepada budak itu: “Aku bebaskan engkau di jalan Allah.”
Budak itu tersenyum. Sayyidah Fathimah kemudian menanyakan mengapa ia tersenyum.
Budak itu menjawab: “Wahai putri Rasulullah, kalung ini yg membuatku tersenyum. Ia telah mengenyangkan org yg kelaparan,
memberikan pakaian pada org yg tak berpakaian, merubahsi fakir menjadi kaya, memberikan tunggangan pada org yg tidak punya tunggangan,
membebaskan budak dan akhirnya ia kembali pemilik aslinya (Allah Swt).”

Benar Ucapan Rasul Saw yang artinya, “Tidak akan berkurang harta yang disedekahkan, melainkan bertambah, melainkan bertambah.”
Harta yg disedekahkan semata-mata karena Allah menjadi berkah, bukan hanya mengenyangkan perut & menutup badan, namun jg memerdekakan.

Kenapa ada “Arbain Imam Husein as” ?


Kenapa-ada-'Arba'in-imam-Husain

Jawab:
1.
ﺍﻣﺎﻡ ﺻﺎﺩﻕ ﻋﻠﻴﻪ ﺍﻟﺴﻠﺎﻡ:
“ﺑَﻜَﺖِ ﺍﻟﺴﱠﱠﻤﺎﺀُ ﻋَﻠَﻲ ﺍﻟﺤُﺴَﻴﻦ ﺃﺭﺑَﻌﻴﻦَ ﻳَﻮﻣﺎً ﺑﺎﻟﺪﱠﱠﻡ”
“Langit menangis darah utk Imam Husein as selama 40 hari.”
2.
ﺍﻣﺎﻡ ﻋﺴﻜﺮﻱ ﻋﻠﻴﻪ ﺍﻟﺴﻠﺎﻡ: “ﻋَﻠﺎﻣﺎﺕُ ﺍﻟﻤُﺆﻣِﻦِ ﺧَﻤﺲٌ … ﻭ ﺯِﻳﺎﺭَﺓُ ﺍﻟﺄﺭﺑَﻌﻴﻦَ … ”
“Ciri-ciri mukmin ada lima..salah satunya
berziarah arbain..”
3.
… ﻓَﺨَﺮﱠﱠ [ﺟﺎﺑِﺮٌ] ﻋَﻠَﻲ ﺍﻟﻘَﺒﺮِ ﻣَﻐﺸِﻴّﺎً ﻋَﻠَﻴﻪِ ﻓَﺮَﺷَﺸﺖُ ﻋَﻠَﻴﻪِ ﺷَﻴﺌﺎً ﻣِﻦَ ﺍﻟﻤﺎﺀِ ﻓَﺄﻓﺎﻕَ ﺛُﻢﱠﱠ ﻗﺎﻝَ ﻳﺎ ﺣُﺴَﻴﻦُ – ﺛَﻠﺎﺛﺎً – ﺛُﻢﱠﱠ ﻗﺎﻝَ: ﺃﺣَﺒﻴﺐٌ
ﻟﺎﻳُﺠﻴِﺐُ ﺣَﺒﻴﺒَﻪ؟
ُ ﺛُﻢﱠﱠ ﻗﺎﻝَ ﺃﻧّﻲ ﻟَﻚَ ﺑِﺎﻟﺠَﻮﺍﺏِ … ﻭ ﻓُﺮﱢﱢﻕَ ﺑَﻴﻦَ ﺑَﺪَﻧِﻚَ ﻭ ﺭَﺃﺳِﻚَ “

“Dikatakan: Jabir pingsan di atas pusara Imam Husein. Lalu seseorang mengusapkan air ke wajahnya hingga ia kembali sadar dan mengucapkan “ya Husein” sebanyak tiga kali. Setelah ia berkata,”Apakah seorang kekasih tdk menjawab panggilan pencintanya?” Tiba2 saat itu mucul dari pusara imam Husein as: “Bagaimana kamu akan menjawab panggilannya, bila kepala kamu dipisahkan dari tubuhnya”.
Kenapa ada Arba’in imam Husain as?

4. Pengorbanan imam Husain as dalam menghidupkan agama.

Peran beliau dalam menghidupkan islam harus mendapatkan perhatian khusus. Pengorbanan ini harus di abadikan, karena mengabadikannya sama dengan mengabadikan islam. Memperingati arba’in husaini pada hakekatnya menjaga agama islam dan memerangi musuh2 islam.

5. Musibah imama Husain tidak pernah terjadi pada para imam, bahkan para nabi sekalipun.

Musibah yang terjadi pada imam Husain lebih berat dari musibah2 yang terjadi pada para imam dan anbiya’. Musibah ini cukup sebagai bukti bagi kita utk mengadakan acara2 duka, aza’ dan arba’in melebihi imam2 lainnya dan Nabi Saw sekalipun.

6. Arba’in adalah hari kembalinya tawanan ke karbala’. hari ingatan2 mereka kembali atas apa yg terjadi pd Ali Akbar, Abul Fadl Abbas, Ar-Radhi’, Sahabat2 Al-Husain dan Al-Husain as. Tentu hari itu adalah hari yang sangat berat bagi para tawanan dan wanita2 Ali as.

7. Musuh bukan sekedar ingin membunuh imam Husain as, mereka ingin memusnahkan islam selamanya.
Bahkan musuh2 islam berusaha menghapus peristiwa itu dari ingatan dan sejarah. Bahkan dari masa ke masa mereka menyiksa dan membunuh para peziarah imam. baik bani umayyah maupun abbasiyah. Orang syiah berusaha dengan berbagai cara mengabadikan peristiwa itu, dan salah satunya adalah arba’in.

8. Ziarah Arba’in dalam hadits imam Hasan Askari as adalah salah satu tanda keimanan.

9. Sirah acara Arba’in kembali pada para imam. merekalah yang pertama kali mengadakan acara arba’in. Bahkan para imam tidak pernah mengadakan acara arba’in kecuali untuk imam Husain as.

Wallahu ‘alam

Nasehat Habib Ali Al-Jufri


Dalam akun facebook-nya (29/11/14), Habib Ali Al-Jifri membuat status terkait penyebutan ‘alaihissalam di belakang nama-nama para Ahlulbait Nabi Saw yang dianggap sebagai salah satu tradisi Muslim Syiah. Habib yang menjadi mufti Uni Emirat Arab ini menjelaskan sedikitnya tiga buah alasan dibolehkannya seorang muslim memberi gelar ‘alaihissalam, ‘alaihassalam, atau ‘alaihimussalam (disingkat as, AS, atau a.s) atas tokoh Ahlulbait Nabi Saw. Umumnya gelar ini digunakan khusus untuk para Nabi dan Rasul saja. Namun kalangan tertentu seringkali memberi gelar tersebut atas Imam Ali, Fathimah putri Rasulullah, Imam Hasan dan Imam Husein, alih-alih radhiyallah ‘anhu yang biasa disandangkan kepada para sahabat nabi yang mulia.

Berikut ini adalah pemaparan Habib Ali Al-Jifri.

Banyak orang mempertanyakan kebenaran penyebutan gelar ‘Alaihimussalam’ setelah nama-nama Imam Ahlulbait Nabi Saw. Sebagian dari mereka menyangka bahwa hal itu adalah perbuatan orang-orang Syiah, bukan Ahlussunnah.

Baca lebih lanjut