Antara Ka’bah dan Karbala


Masjid-al-Haram (Mecca)Riwayat-riwayat dari para Imam Ahlulbait As pernah menukilkan tentang kelebihan tanah Karbala atas Ka’bah, akan tetapi kendati demikian, mungkin masih ada tempat yang lebih suci dan muqaddas namun tidak ada amalan-amalan wajib di sana; sebagaimana Nabi Khidhir As yang lebih pandai dari Nabi Musa As, akan tetapi masyarakat saat itu hanya berkewajiban untuk mengikuti nabi Musa As.
Imam Sajjad As bersabda, “24 ribu tahun sebelum menciptakan tanah Ka’bah dan menempatkan haram-Nya di sana, Allah Swt telah menciptakan Karbala, dan menjadikannya sebagai haram yang aman dan mubarak, dan ketika Allah menggoncangkan dan menggerakkan bumi (mungkin ini kiasan dari hari kiamat) maka tanah Karbala dengan turbah dan tanahnya akan terangkat ke atas dalam keadaan yang bercahaya dan benderang, ia akan diletakkan di kebun-kebun surga terbaik dan menjadi tempat tinggal terbaik, di sana tidak akan tinggal seorangpun kecuali para anbiya mursalin atau para nabi ulul azmi. Tanah ini terlihat gemilang di tengah-tengah kebun surga, sebagaimana bintang yang bercahaya di antara planet-planet yang kemilau, cahaya tanah ini menyilaukan mata para penghuni surga dan dengan suara keras ia mengatakan, Aku adalah tanah yang suci, baik, dan mubarak, tempat bersemayamnya sayyidusyuhada dan penghulu para ahli surga.”[1]
Iklan

Nasehat Habib Ali Al-Jufri


Dalam akun facebook-nya (29/11/14), Habib Ali Al-Jifri membuat status terkait penyebutan ‘alaihissalam di belakang nama-nama para Ahlulbait Nabi Saw yang dianggap sebagai salah satu tradisi Muslim Syiah. Habib yang menjadi mufti Uni Emirat Arab ini menjelaskan sedikitnya tiga buah alasan dibolehkannya seorang muslim memberi gelar ‘alaihissalam, ‘alaihassalam, atau ‘alaihimussalam (disingkat as, AS, atau a.s) atas tokoh Ahlulbait Nabi Saw. Umumnya gelar ini digunakan khusus untuk para Nabi dan Rasul saja. Namun kalangan tertentu seringkali memberi gelar tersebut atas Imam Ali, Fathimah putri Rasulullah, Imam Hasan dan Imam Husein, alih-alih radhiyallah ‘anhu yang biasa disandangkan kepada para sahabat nabi yang mulia.

Berikut ini adalah pemaparan Habib Ali Al-Jifri.

Banyak orang mempertanyakan kebenaran penyebutan gelar ‘Alaihimussalam’ setelah nama-nama Imam Ahlulbait Nabi Saw. Sebagian dari mereka menyangka bahwa hal itu adalah perbuatan orang-orang Syiah, bukan Ahlussunnah.

Baca lebih lanjut

Melawan Stereotype, Membangun Harmoni Sunni-Syi’ah


Kita sepakat bahwa baik Sunni dan Syia’h berbeda dalam beberapa hal. Tapi janganlah perbedaan itu menjadi alasan bagi kita untuk saling mengusir, melarang ibadah bahkan membunuh. Apalagi menggunakan legitimasi Tuhan dan ayat suci untuk menumpahkan darah “saudara” kita.

Penguatan isu perbedaan Sunni-Syi’ah yang selama ini terjadi di dunia Islam sejatinya memberikan pengaruh negatif dalam keberlangsungan persatuan ummat Muslim itu sendiri. Tariq Ramadan (2012), cucu dari Hasan al-Banna dalam sebuah kesempatan pernah menunjukkan betapa rapuhnya kita ummat Muslim dengan adanya isu ini. Saat masyarakat Lebanon berjuang melawan agresi militer Israel misalnya, pemerintah yang saat itu adalah Sunni tidak mendukung masyarakat karena menganggap mereka adalah Syiah. Hal yang sebaliknya juga terjadi di beberapa negara Timur Tengah lainnya.

Pembedaan Sunni-Syi’ah ini pada akhirnya menjadikan sebahagian ummat Islam memiliki kecendrungan untuk tidak menolong kelompok yang lain meski kelompok tersebut membutuhkan bantuan. Bahkan, perbedaan justru seringkali menjadi legitimasi terjadinya kekerasan atas kelompok yang berbeda.

Baca lebih lanjut

Kebenaran dan Minoritas


Jangan-Takut-Jadi-MinoritasMengetahui kebenaran atau kebatilan suatu golongan bukan dari sedikit atau banyaknya pengikut golongan tersebut. Seperlima dari penduduk bumi adalah orang-orang yang mengingkari kebenaran islam dan mayoritas dari penduduk asia timur adalah para penyembah berhala dan orang-orang yang mengingkari non materi.

Cina dengan jumlah penduduk melebihi 1 milyar berhaluan komunis dan kebanyakan dari penduduk India, yang mendekati angka 1 milyar adalah para penyembah berhala dan sapi.

Dengan demikian mayoritas bukan tolak ukur kebenaran. Al-Quran dalam ayat-ayatnya sering kali mencela mayoritas dan memuji kalangan minoritas. Dan kami di sini hanya akan menyebutkan beberapa contoh saja dari ayat-ayat tersebut;

  1. ولا تجد أكثرهم شاكرين, “Dan engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur”.[1]
  2. ان أوليائه الا المتقون ولكن أكثرهم لا يعلمون, “Sesunguhnya orang-orang yang berhak menguasai(nya), hanyalah orang-orang yang bertakwa, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahuinya”.[2]
  3. وقليل من عبادي الشكور, “Dan sedikit sekali dari hamba-hambaku yang berterimah kasih”.[3]

Baca lebih lanjut

Kenapa dalam Azan, Syiah Memberi Kesaksian pada Wilayah Ali as ?


Kenapa-dalam-Azan-Syiah-Memberi-Kesaksian-pada-Wilayah-Ali-as

Perlu diperhatikan beberapa hal di bawah ini, sebelum menjawab pertanyaan di atas;

  1. Para Fuqaha syiah dalam risalah amaliahnya, baik istidlali maupun bukan, selalu menjelaskan bahwa kesaksian atas wilayah Ali as tidak termasuk bagian azan. Dan tidak seorang pun berhak mengatakan kesaksian atas Ali as adalah bagian dari azan.
  2. Ali as menurut pandangan al-Quran adalah salah satu aulia Allah SWT. Sebagaimana al-Quran menjelaskan wilayahnya (kepemimpinan) atas kaum mukminin, yaitu;

إِنَّما وَلِيُّكُمُ اللهُ وَ رَسُولُهُ وَ الَّذينَ آمَنُوا الَّذينَ يُقيمُونَ الصَّلاةَ وَ يُؤْتُونَ الزَّكاةَ وَ هُمْ راكِعُونَ

Sesungguhnya pemimpinmu hanyalah Allah, rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman, yang mendirikan shalat dan menunaikan zakat, sedang mereka dalam keadaan rukuk.”[1]

Baca lebih lanjut

Salahkah Kita Mengucapan Salam Kepada Rasulullah?


salam-dan-sholawat-kepada-rasulullah

Sebenarnya kaum muslimin sepakat mengenai masalah ini. Rasulullah Saw pun mengajarkan kepada para sahabat cara mengucapkan shalawat. Sewaktu ayat ini turun, “Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikatNya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan uncapkanlah salam penghormatan kepadanya”.[1]Para sahabat bertanya, bagaimanakah cara kami bershalawat kepadamu ? Rasulullah Saw berkata, “Janganlah kalian bershalawat atasku dengan shalawat batra’ (tidak sempurna)”. Mereka bertanya, lalu bagaimana kami harus bershalawat ? Rasulullah Saw berkata, اللهم صل على محمد وعلى آل محمد .[2]

Syafi’i dalam bait-bait syairnya mengatakan tentang kedudukan keluarga Nabi Saw.

يا اهل بيت رسول الله حبكم         فرض من الله في القرآن انزله

كفاكم من عظيم القدر انكم           من لم يصل عليكم لا صلوة له

“Wahai Ahlu Bait Nabi Saw, kecintaan kepada kalian adalah wajib yang telah Allah tetapkan dalam Quran yang diturunkannya.

Kebesaran dan keagungan adalah ke dudukanmu, dan barang siapa yang tidak bershalawat kepada kalian, maka tidak diterima shalatnya”.[3]

[1] Al-Ahzab ayat 56.

[2] Al-Shawaiq al-Muhriqah, Ibn Hajar cetakan ke-2 Pustaka al-Qahira Mesir, bab 11 bagian ke-1 hal. 146. al-Dur al-Mansur jilid 5 tafsir surat al-Ahzab ayat 56, yang dikutip dari para muhadist dan kitab-kitab sahih dan musnad, seperti Abdul Razak, Ibn Abi Syabih, Ahmad, Bukhari, Muslim, Abu Daud, Turmuzi, Nasa’i, Ibn Majah, Ibn Mardawaih dinukil dari Ka’ab bin Ajrah dari Rasulullah Saw.

[3] Al-Shawaiq al-Muhriqah bab 11 hal. 148 dari bagian ke-1. Syabrawi, Itihaf hal. 29. Hamzav i Maliki Musriq al-Anwar , hal. 88. Zarqani, al-Mawahib dan Saban, al-Is’af hal. 119.

Syiah Ali bin Abi Tholib as


Syiah_Ali_Bin_Abi_Thalib_asKata syi’ah dalam terminologi bahasa arab berarti pengikut. Sebagaimana al-Quran mengatakan, وان من شيعته لابراهيم “Dan sesungguhnya Ibrahim benar-benar termasuk pengikutnya (Nuh as)”.[1]Adapun menurut istilah adalah golongan yang meyakini bahwa Nabi Saw sebelum wafatnya telah menetapkan seorang wasi atau pengganti yang akan memimpin kaum muslimin dalam berbagai kesempatan, seperti Rasulullah Saw telah mengangkat Ali as sebagai tempat rujukan kaum muslimin dalam masalah politik, ilmu dan agama pada tanggal 18 Dzulhijjah tahun 10 H yang terkenal dengan hari Gadir, dalam halayak ramai.

Namun sepeninggal Nabi Saw Muhajir dan Anshar pecah menjadi dua kelompok, yaitu ;

  1. Kelompok yang meyakini bahwa Nabi Saw tidak menyerahkan masalah kepemimpinan kepada umatnya, akantetapi beliau telah mengangkat seorang penggantinya, yaitu Ali bin Abi Thalib as. Orang yang pertama kali menyatakan keimanannya kepada Nabi Saw.

Kelompok ini terdiri dari Muhajir dan Anshar, Bani Hasyim serta sahabat-sahabat besar, seperti Salman, Abu Dzar, Miqdad, Khabab bin Irs dan lainnya. Mereka adalah orang-orang yang berpegang teguh dengan akidahnya dan menamakan dirinya sebagai syi’ah Ali as.

Baca lebih lanjut