Antara Ka’bah dan Karbala


Masjid-al-Haram (Mecca)Riwayat-riwayat dari para Imam Ahlulbait As pernah menukilkan tentang kelebihan tanah Karbala atas Ka’bah, akan tetapi kendati demikian, mungkin masih ada tempat yang lebih suci dan muqaddas namun tidak ada amalan-amalan wajib di sana; sebagaimana Nabi Khidhir As yang lebih pandai dari Nabi Musa As, akan tetapi masyarakat saat itu hanya berkewajiban untuk mengikuti nabi Musa As.
Imam Sajjad As bersabda, “24 ribu tahun sebelum menciptakan tanah Ka’bah dan menempatkan haram-Nya di sana, Allah Swt telah menciptakan Karbala, dan menjadikannya sebagai haram yang aman dan mubarak, dan ketika Allah menggoncangkan dan menggerakkan bumi (mungkin ini kiasan dari hari kiamat) maka tanah Karbala dengan turbah dan tanahnya akan terangkat ke atas dalam keadaan yang bercahaya dan benderang, ia akan diletakkan di kebun-kebun surga terbaik dan menjadi tempat tinggal terbaik, di sana tidak akan tinggal seorangpun kecuali para anbiya mursalin atau para nabi ulul azmi. Tanah ini terlihat gemilang di tengah-tengah kebun surga, sebagaimana bintang yang bercahaya di antara planet-planet yang kemilau, cahaya tanah ini menyilaukan mata para penghuni surga dan dengan suara keras ia mengatakan, Aku adalah tanah yang suci, baik, dan mubarak, tempat bersemayamnya sayyidusyuhada dan penghulu para ahli surga.”[1]
Iklan

Saat Allah Tidak Mencipta


Allah-Tidak-MenciptaApakah ada suatu waktu Sang Pencipta tidak dapat meangaktualkan sifat penciptanya? Dengan kata lain, apakah ada suatu waktu dimana hanya ada Allah Swt di situ dan tiada satu pun yang ada? Dengan kata lain, apakah kondisi seperti ini dulunya ada dalam satu rentang waktu tertentu atau di masa akan datang? Apabila jawabannya positif, apakah kita akan berbicara tentang sebuah waktu dimana sifat-sifat seperti rahmat, kepenciptaan, keadilan, ihsan belum lagi ada untuk Tuhan pada waktu itu. Atau kita katakan sifat ini dulunya ada namun belum lagi teraktualisasikan. Lantas bagaimana pemilik sifat ini yang kita anggap sebagai jawad (maha pemberi) namun hampa sifat pemberian (jud) dan pencipta tanpa penciptaan? Apabila jawabannya negatif maka dalam hal ini apakah sifat azali dan abadi tidak dapat kita sandarkan pada makhluk-makhluk lainnya?

Baca lebih lanjut

Kebenaran dan Minoritas


Jangan-Takut-Jadi-MinoritasMengetahui kebenaran atau kebatilan suatu golongan bukan dari sedikit atau banyaknya pengikut golongan tersebut. Seperlima dari penduduk bumi adalah orang-orang yang mengingkari kebenaran islam dan mayoritas dari penduduk asia timur adalah para penyembah berhala dan orang-orang yang mengingkari non materi.

Cina dengan jumlah penduduk melebihi 1 milyar berhaluan komunis dan kebanyakan dari penduduk India, yang mendekati angka 1 milyar adalah para penyembah berhala dan sapi.

Dengan demikian mayoritas bukan tolak ukur kebenaran. Al-Quran dalam ayat-ayatnya sering kali mencela mayoritas dan memuji kalangan minoritas. Dan kami di sini hanya akan menyebutkan beberapa contoh saja dari ayat-ayat tersebut;

  1. ولا تجد أكثرهم شاكرين, “Dan engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur”.[1]
  2. ان أوليائه الا المتقون ولكن أكثرهم لا يعلمون, “Sesunguhnya orang-orang yang berhak menguasai(nya), hanyalah orang-orang yang bertakwa, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahuinya”.[2]
  3. وقليل من عبادي الشكور, “Dan sedikit sekali dari hamba-hambaku yang berterimah kasih”.[3]

Baca lebih lanjut

Kenapa dalam Azan, Syiah Memberi Kesaksian pada Wilayah Ali as ?


Kenapa-dalam-Azan-Syiah-Memberi-Kesaksian-pada-Wilayah-Ali-as

Perlu diperhatikan beberapa hal di bawah ini, sebelum menjawab pertanyaan di atas;

  1. Para Fuqaha syiah dalam risalah amaliahnya, baik istidlali maupun bukan, selalu menjelaskan bahwa kesaksian atas wilayah Ali as tidak termasuk bagian azan. Dan tidak seorang pun berhak mengatakan kesaksian atas Ali as adalah bagian dari azan.
  2. Ali as menurut pandangan al-Quran adalah salah satu aulia Allah SWT. Sebagaimana al-Quran menjelaskan wilayahnya (kepemimpinan) atas kaum mukminin, yaitu;

إِنَّما وَلِيُّكُمُ اللهُ وَ رَسُولُهُ وَ الَّذينَ آمَنُوا الَّذينَ يُقيمُونَ الصَّلاةَ وَ يُؤْتُونَ الزَّكاةَ وَ هُمْ راكِعُونَ

Sesungguhnya pemimpinmu hanyalah Allah, rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman, yang mendirikan shalat dan menunaikan zakat, sedang mereka dalam keadaan rukuk.”[1]

Baca lebih lanjut

Salahkah Kita Mengucapan Salam Kepada Rasulullah?


salam-dan-sholawat-kepada-rasulullah

Sebenarnya kaum muslimin sepakat mengenai masalah ini. Rasulullah Saw pun mengajarkan kepada para sahabat cara mengucapkan shalawat. Sewaktu ayat ini turun, “Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikatNya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan uncapkanlah salam penghormatan kepadanya”.[1]Para sahabat bertanya, bagaimanakah cara kami bershalawat kepadamu ? Rasulullah Saw berkata, “Janganlah kalian bershalawat atasku dengan shalawat batra’ (tidak sempurna)”. Mereka bertanya, lalu bagaimana kami harus bershalawat ? Rasulullah Saw berkata, اللهم صل على محمد وعلى آل محمد .[2]

Syafi’i dalam bait-bait syairnya mengatakan tentang kedudukan keluarga Nabi Saw.

يا اهل بيت رسول الله حبكم         فرض من الله في القرآن انزله

كفاكم من عظيم القدر انكم           من لم يصل عليكم لا صلوة له

“Wahai Ahlu Bait Nabi Saw, kecintaan kepada kalian adalah wajib yang telah Allah tetapkan dalam Quran yang diturunkannya.

Kebesaran dan keagungan adalah ke dudukanmu, dan barang siapa yang tidak bershalawat kepada kalian, maka tidak diterima shalatnya”.[3]

[1] Al-Ahzab ayat 56.

[2] Al-Shawaiq al-Muhriqah, Ibn Hajar cetakan ke-2 Pustaka al-Qahira Mesir, bab 11 bagian ke-1 hal. 146. al-Dur al-Mansur jilid 5 tafsir surat al-Ahzab ayat 56, yang dikutip dari para muhadist dan kitab-kitab sahih dan musnad, seperti Abdul Razak, Ibn Abi Syabih, Ahmad, Bukhari, Muslim, Abu Daud, Turmuzi, Nasa’i, Ibn Majah, Ibn Mardawaih dinukil dari Ka’ab bin Ajrah dari Rasulullah Saw.

[3] Al-Shawaiq al-Muhriqah bab 11 hal. 148 dari bagian ke-1. Syabrawi, Itihaf hal. 29. Hamzav i Maliki Musriq al-Anwar , hal. 88. Zarqani, al-Mawahib dan Saban, al-Is’af hal. 119.

Syiah Ali bin Abi Tholib as


Syiah_Ali_Bin_Abi_Thalib_asKata syi’ah dalam terminologi bahasa arab berarti pengikut. Sebagaimana al-Quran mengatakan, وان من شيعته لابراهيم “Dan sesungguhnya Ibrahim benar-benar termasuk pengikutnya (Nuh as)”.[1]Adapun menurut istilah adalah golongan yang meyakini bahwa Nabi Saw sebelum wafatnya telah menetapkan seorang wasi atau pengganti yang akan memimpin kaum muslimin dalam berbagai kesempatan, seperti Rasulullah Saw telah mengangkat Ali as sebagai tempat rujukan kaum muslimin dalam masalah politik, ilmu dan agama pada tanggal 18 Dzulhijjah tahun 10 H yang terkenal dengan hari Gadir, dalam halayak ramai.

Namun sepeninggal Nabi Saw Muhajir dan Anshar pecah menjadi dua kelompok, yaitu ;

  1. Kelompok yang meyakini bahwa Nabi Saw tidak menyerahkan masalah kepemimpinan kepada umatnya, akantetapi beliau telah mengangkat seorang penggantinya, yaitu Ali bin Abi Thalib as. Orang yang pertama kali menyatakan keimanannya kepada Nabi Saw.

Kelompok ini terdiri dari Muhajir dan Anshar, Bani Hasyim serta sahabat-sahabat besar, seperti Salman, Abu Dzar, Miqdad, Khabab bin Irs dan lainnya. Mereka adalah orang-orang yang berpegang teguh dengan akidahnya dan menamakan dirinya sebagai syi’ah Ali as.

Baca lebih lanjut

Menggugat Sunnah, Membumikan Itrah


Hadis_Itrah_AhlaBaytiPara perawi telah meriwayatkan hadits tsaqalain dalam dua bentuk yang terdapat dalam kitab-kitab hadis. Lalu manakah yang benar di antara dua hadis tersebut; “Kitabullah wa Itrati AhlaBaiti atau Kitabullah wa Sunnati” ? .

 

Jawab

Hadis sahih yang telah dinukil dari Rasulullah Saw adalah hadis yang berbunyi Kitabullah wa Itrati AhlaBaiti. Adapun riwayat yang menggunakan kalimat “Sunnati” adalah riwayat yang batil dan mardud dari sisi sanadnya, sementara keotentikan sanad hadis Itrati AhlaBaiti dapat dipertanggung jawabkan.

 

Sanad Hadis (Itrati Ahlabaiti)

Dua orang muhadist besar ahli sunnah telah menukil hadis ini dalam kitabnya, sebagai berikut;

  1. Muslim dalam sahihnya meriwayatkan dari Zaid bin Arqam bahwasanya Rasulullah Saw pada suatu hari di Khum (kawasan antara Makkah dan Madinah) dalam khutbahnya, setelah memuji Allah SWT dan menasihati kaum muslimin, mengatakan;

ألا أيها الناس، فانما انا بشر يوشك ان يأتي رسول الله ربي فأجيب، وانا تارك فيكم ثقلين : أولهما كتاب الله فيه الهدى والنور، فخذوا بكتاب الله واستمسكوا به –فحث على كتاب الله ورغب فيه ثم قال :وأهل بيتي، أذكركم الله في أهل بيتي، أذكركم في أهل بيتي، أذكركم الله في أهل بيتي.

“Wahai manusia, aku hanyalah seorang manusia yang tidak lama lagi utusan Tuhanku akan datang, dan aku segera menjawab panggilannya. Sungguh, aku tinggalkan kepada kalian dua pusaka yang berharga (tsaqalain): pertama Kitab Allah. Di dalamnya, ada petunjuk dan cahaya, maka ambil dan berpegang teguhlah dengannya –Rasulullah Saw sangat menekankan untuk mengamalkannya. Kemudia berkata, (Yang kedua) Ahlul Baytku. Aku ingatkan kalian kepada Allah tentang Ahlul Baytku ini, aku ingatkan kalian kepada Allah tentang Ahlul Baytku ini”.[1]

Baca lebih lanjut