Antara Ka’bah dan Karbala


Masjid-al-Haram (Mecca)Riwayat-riwayat dari para Imam Ahlulbait As pernah menukilkan tentang kelebihan tanah Karbala atas Ka’bah, akan tetapi kendati demikian, mungkin masih ada tempat yang lebih suci dan muqaddas namun tidak ada amalan-amalan wajib di sana; sebagaimana Nabi Khidhir As yang lebih pandai dari Nabi Musa As, akan tetapi masyarakat saat itu hanya berkewajiban untuk mengikuti nabi Musa As.
Imam Sajjad As bersabda, “24 ribu tahun sebelum menciptakan tanah Ka’bah dan menempatkan haram-Nya di sana, Allah Swt telah menciptakan Karbala, dan menjadikannya sebagai haram yang aman dan mubarak, dan ketika Allah menggoncangkan dan menggerakkan bumi (mungkin ini kiasan dari hari kiamat) maka tanah Karbala dengan turbah dan tanahnya akan terangkat ke atas dalam keadaan yang bercahaya dan benderang, ia akan diletakkan di kebun-kebun surga terbaik dan menjadi tempat tinggal terbaik, di sana tidak akan tinggal seorangpun kecuali para anbiya mursalin atau para nabi ulul azmi. Tanah ini terlihat gemilang di tengah-tengah kebun surga, sebagaimana bintang yang bercahaya di antara planet-planet yang kemilau, cahaya tanah ini menyilaukan mata para penghuni surga dan dengan suara keras ia mengatakan, Aku adalah tanah yang suci, baik, dan mubarak, tempat bersemayamnya sayyidusyuhada dan penghulu para ahli surga.”[1]
Iklan

Rahasia Dakwa Nabi Saw


Rahasia_Dakwa_Nabi_SawRasulullah melakukan dakwah diam-diam dan sembunyi-sembunyi hanya kepada kerabat, keluarga dan beberapa orang-orang pilihan dari kalangan sahabat.
Adapun terkait dengan alasan mengapa melakukan dakwah secara sembunyi-sembunyi pada tiga tahun pertama dakwahnya, tidak disebutkan analisa tajam dan terang pada literatur-literatur standar sejarah dan riwayat. Namun apa yang segera terlintas dalam benak adalah bahwa alasan utama Nabi Saw melakukan dakwah sembunyi-sembunyi ini karena adanya rasa takut terhadap perlawanan sengit kaum musyrik dan bahaya yang akan mengancam dakwah Islam yang baru saja dimulai.
Hal ini dapat dijelaskan sebagai berikut.
Nabi Muhammad Saw melakukan dakwah sembunyi-sembunyi ini selama tiga tahun;[1] karena situasi dan kondisi kota Mekah belum kondusif untuk memulai dakwah secara terang-terangan. Beliau dalam tiga tahun ini melakukan dakwah sembunyi-sembunyi kepada orang-orang yang dinilai memiliki kesiapan untuk menerima. Rasulullah Saw mengajak mereka kepada tauhid dan penyembahan kepada-Nya serta kenabiannya. Dalam masa ini, Quraisy mengetahui klaim yang disampaikan oleh Nabi Saw dan tatkala mereka melihatnya di suatu tempat, mereka berkata, “Pemuda Bani Abdul Muthhalib berbicara sesuatu dari langit.”[2] Lantaran ia tidak menyampaikan klaimnya itu di hadapan khalayak ramai, mereka tidak mengetahui kandungan dakwah Nabi Saw karena itu mereka tidak menunjukkan reaksi apa pun. Baca lebih lanjut

Al-Masih Putra Maryam


Al-Masih-Putra-MaryamNabi Isa As merupakan salah satu nabi besar Ilahi. Nama nabi besar ini berada pada jejeran empat nabi ulul azmi. Penciptaannya serupa dengan penciptaan Nabi Adam  As. Artinya Allah Swt menciptakan Nabi Isa As dari ibunya Maryam Uzara Sa yang merupakan seorang wanita salehah dan suci tanpa seorang ayah.[1]

Kelahiran
Kakek Nabi Isa As bernama Imran. Istrinya tatkala hamil bernazar bahwa ia akan menjadikannya sebagai pelayan di Baitul Muqaddas. Ia mengira bahwa jabang bayi yang ia kandung adlaah seorang bocah laki-laki. Namun, tatkala bayi itu lahir, ia melihat bahwa yang dilahirkannya adalah seorang bocah perempuan. Karena itu ia memberikan nama kepada bocah perempuan itu dengan nama Maryam. Setelah Maryam kian beranjak besar, ibunya mengirimnya ke Baitul Muqaddas untuk berkhidmat di sana.
Nabi Zakariyyah memikul tanggung jawab sebagai wali bagi Maryam. Selama itu, sedemikian Maryam menggondol derajat spiritual yang sangat tinggi sehingga Allah Swt mengirimkan makanan dari langit untuknya.[2] Namun selain Nabi Zakariyah terdapat orang lain yang merawat Maryam dan ingin memperoleh kehormatan dengan merawatnya; karena itu untuk memilih siapa yang dapat memperoleh kehormatan merawat Maryam diadakanlah undian dengan menggunakan pena-pena mereka. Hasil undian menunjukkan nama Nabi Zakariyah yang berhak merawat Maryam.[3]

Baca lebih lanjut

Kenapa ada “Arbain Imam Husein as” ?


Kenapa-ada-'Arba'in-imam-Husain

Jawab:
1.
ﺍﻣﺎﻡ ﺻﺎﺩﻕ ﻋﻠﻴﻪ ﺍﻟﺴﻠﺎﻡ:
“ﺑَﻜَﺖِ ﺍﻟﺴﱠﱠﻤﺎﺀُ ﻋَﻠَﻲ ﺍﻟﺤُﺴَﻴﻦ ﺃﺭﺑَﻌﻴﻦَ ﻳَﻮﻣﺎً ﺑﺎﻟﺪﱠﱠﻡ”
“Langit menangis darah utk Imam Husein as selama 40 hari.”
2.
ﺍﻣﺎﻡ ﻋﺴﻜﺮﻱ ﻋﻠﻴﻪ ﺍﻟﺴﻠﺎﻡ: “ﻋَﻠﺎﻣﺎﺕُ ﺍﻟﻤُﺆﻣِﻦِ ﺧَﻤﺲٌ … ﻭ ﺯِﻳﺎﺭَﺓُ ﺍﻟﺄﺭﺑَﻌﻴﻦَ … ”
“Ciri-ciri mukmin ada lima..salah satunya
berziarah arbain..”
3.
… ﻓَﺨَﺮﱠﱠ [ﺟﺎﺑِﺮٌ] ﻋَﻠَﻲ ﺍﻟﻘَﺒﺮِ ﻣَﻐﺸِﻴّﺎً ﻋَﻠَﻴﻪِ ﻓَﺮَﺷَﺸﺖُ ﻋَﻠَﻴﻪِ ﺷَﻴﺌﺎً ﻣِﻦَ ﺍﻟﻤﺎﺀِ ﻓَﺄﻓﺎﻕَ ﺛُﻢﱠﱠ ﻗﺎﻝَ ﻳﺎ ﺣُﺴَﻴﻦُ – ﺛَﻠﺎﺛﺎً – ﺛُﻢﱠﱠ ﻗﺎﻝَ: ﺃﺣَﺒﻴﺐٌ
ﻟﺎﻳُﺠﻴِﺐُ ﺣَﺒﻴﺒَﻪ؟
ُ ﺛُﻢﱠﱠ ﻗﺎﻝَ ﺃﻧّﻲ ﻟَﻚَ ﺑِﺎﻟﺠَﻮﺍﺏِ … ﻭ ﻓُﺮﱢﱢﻕَ ﺑَﻴﻦَ ﺑَﺪَﻧِﻚَ ﻭ ﺭَﺃﺳِﻚَ “

“Dikatakan: Jabir pingsan di atas pusara Imam Husein. Lalu seseorang mengusapkan air ke wajahnya hingga ia kembali sadar dan mengucapkan “ya Husein” sebanyak tiga kali. Setelah ia berkata,”Apakah seorang kekasih tdk menjawab panggilan pencintanya?” Tiba2 saat itu mucul dari pusara imam Husein as: “Bagaimana kamu akan menjawab panggilannya, bila kepala kamu dipisahkan dari tubuhnya”.
Kenapa ada Arba’in imam Husain as?

4. Pengorbanan imam Husain as dalam menghidupkan agama.

Peran beliau dalam menghidupkan islam harus mendapatkan perhatian khusus. Pengorbanan ini harus di abadikan, karena mengabadikannya sama dengan mengabadikan islam. Memperingati arba’in husaini pada hakekatnya menjaga agama islam dan memerangi musuh2 islam.

5. Musibah imama Husain tidak pernah terjadi pada para imam, bahkan para nabi sekalipun.

Musibah yang terjadi pada imam Husain lebih berat dari musibah2 yang terjadi pada para imam dan anbiya’. Musibah ini cukup sebagai bukti bagi kita utk mengadakan acara2 duka, aza’ dan arba’in melebihi imam2 lainnya dan Nabi Saw sekalipun.

6. Arba’in adalah hari kembalinya tawanan ke karbala’. hari ingatan2 mereka kembali atas apa yg terjadi pd Ali Akbar, Abul Fadl Abbas, Ar-Radhi’, Sahabat2 Al-Husain dan Al-Husain as. Tentu hari itu adalah hari yang sangat berat bagi para tawanan dan wanita2 Ali as.

7. Musuh bukan sekedar ingin membunuh imam Husain as, mereka ingin memusnahkan islam selamanya.
Bahkan musuh2 islam berusaha menghapus peristiwa itu dari ingatan dan sejarah. Bahkan dari masa ke masa mereka menyiksa dan membunuh para peziarah imam. baik bani umayyah maupun abbasiyah. Orang syiah berusaha dengan berbagai cara mengabadikan peristiwa itu, dan salah satunya adalah arba’in.

8. Ziarah Arba’in dalam hadits imam Hasan Askari as adalah salah satu tanda keimanan.

9. Sirah acara Arba’in kembali pada para imam. merekalah yang pertama kali mengadakan acara arba’in. Bahkan para imam tidak pernah mengadakan acara arba’in kecuali untuk imam Husain as.

Wallahu ‘alam

Nasehat Habib Ali Al-Jufri


Dalam akun facebook-nya (29/11/14), Habib Ali Al-Jifri membuat status terkait penyebutan ‘alaihissalam di belakang nama-nama para Ahlulbait Nabi Saw yang dianggap sebagai salah satu tradisi Muslim Syiah. Habib yang menjadi mufti Uni Emirat Arab ini menjelaskan sedikitnya tiga buah alasan dibolehkannya seorang muslim memberi gelar ‘alaihissalam, ‘alaihassalam, atau ‘alaihimussalam (disingkat as, AS, atau a.s) atas tokoh Ahlulbait Nabi Saw. Umumnya gelar ini digunakan khusus untuk para Nabi dan Rasul saja. Namun kalangan tertentu seringkali memberi gelar tersebut atas Imam Ali, Fathimah putri Rasulullah, Imam Hasan dan Imam Husein, alih-alih radhiyallah ‘anhu yang biasa disandangkan kepada para sahabat nabi yang mulia.

Berikut ini adalah pemaparan Habib Ali Al-Jifri.

Banyak orang mempertanyakan kebenaran penyebutan gelar ‘Alaihimussalam’ setelah nama-nama Imam Ahlulbait Nabi Saw. Sebagian dari mereka menyangka bahwa hal itu adalah perbuatan orang-orang Syiah, bukan Ahlussunnah.

Baca lebih lanjut

Kebenaran dan Minoritas


Jangan-Takut-Jadi-MinoritasMengetahui kebenaran atau kebatilan suatu golongan bukan dari sedikit atau banyaknya pengikut golongan tersebut. Seperlima dari penduduk bumi adalah orang-orang yang mengingkari kebenaran islam dan mayoritas dari penduduk asia timur adalah para penyembah berhala dan orang-orang yang mengingkari non materi.

Cina dengan jumlah penduduk melebihi 1 milyar berhaluan komunis dan kebanyakan dari penduduk India, yang mendekati angka 1 milyar adalah para penyembah berhala dan sapi.

Dengan demikian mayoritas bukan tolak ukur kebenaran. Al-Quran dalam ayat-ayatnya sering kali mencela mayoritas dan memuji kalangan minoritas. Dan kami di sini hanya akan menyebutkan beberapa contoh saja dari ayat-ayat tersebut;

  1. ولا تجد أكثرهم شاكرين, “Dan engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur”.[1]
  2. ان أوليائه الا المتقون ولكن أكثرهم لا يعلمون, “Sesunguhnya orang-orang yang berhak menguasai(nya), hanyalah orang-orang yang bertakwa, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahuinya”.[2]
  3. وقليل من عبادي الشكور, “Dan sedikit sekali dari hamba-hambaku yang berterimah kasih”.[3]

Baca lebih lanjut

Kenapa dalam Azan, Syiah Memberi Kesaksian pada Wilayah Ali as ?


Kenapa-dalam-Azan-Syiah-Memberi-Kesaksian-pada-Wilayah-Ali-as

Perlu diperhatikan beberapa hal di bawah ini, sebelum menjawab pertanyaan di atas;

  1. Para Fuqaha syiah dalam risalah amaliahnya, baik istidlali maupun bukan, selalu menjelaskan bahwa kesaksian atas wilayah Ali as tidak termasuk bagian azan. Dan tidak seorang pun berhak mengatakan kesaksian atas Ali as adalah bagian dari azan.
  2. Ali as menurut pandangan al-Quran adalah salah satu aulia Allah SWT. Sebagaimana al-Quran menjelaskan wilayahnya (kepemimpinan) atas kaum mukminin, yaitu;

إِنَّما وَلِيُّكُمُ اللهُ وَ رَسُولُهُ وَ الَّذينَ آمَنُوا الَّذينَ يُقيمُونَ الصَّلاةَ وَ يُؤْتُونَ الزَّكاةَ وَ هُمْ راكِعُونَ

Sesungguhnya pemimpinmu hanyalah Allah, rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman, yang mendirikan shalat dan menunaikan zakat, sedang mereka dalam keadaan rukuk.”[1]

Baca lebih lanjut