Qana’ah


Salah satu masalah yang sangat prinsip dalam kehidupan social manusia adalah qana’ah. Qana’ah merupakan sifat yang dapat mencegah manusia dari rasa tamak dan rakus terhadap dunia. Ketamakkan juga termasuk hal yang menjerumuskan manusia pada kehinaan. Rakus, tamak, cinta dunia menyebabkan manusia melakukan segala cara untuk mendapatkan dunia meskipun dirinya hina dihadapan orang lain. Sebaliknya rasa puas justru akan menghindarkan manusia dari hal tersebut dan menjadikannya mulia.

Disini, kami ingin memaparkan dasar munculnya sifat qana’ah dan hasil yang didapat secara ringkas. Karena mengetahui dasar-dasar yang melatar belakangi munculnya sifat tersebut, akan memudahkan kita untuk menapaki jejak-jejak kemuliaan.

Makna Qana’ah

Qana’ah adalah sikap rela menerima, merasa cukup dan rasa puas atas hasil yang diusahakannya serta menjauhkan diri dari rasa tidak puas dan perasaan kurang. Dalam riwayat terkadang qana’ah bermakna sikap rela secara mutlak. Sebagaimana surat imam Ali kepada Utsman bin Hanif;

Apakah saya akan puas dipanggil amirul mukminin, walaupun saya tidak turut serta dengan rakyat dalam kesukaran-kesukaran dunia?”.[1]

Dalam ilmu akhlak qana’ah lawan kata dari Hirs (rakus). Sikap puas akan menyebabkan manusia merasa cukup pada apa yang dibutuhkan dan tidak menuntut lebih. Sehingga orang yang meiliki sifat ini akan lebih banyak menghabiskan waktunya untuk mancari dan mendapatkan kemuliaan dunia dan akhirat. Sebaliknya hirs (rakus) sifat yang mendorong manusia mengumpulkan lebih dari apa yang dibutuhkan. Bahkan sifat ini dapat mencegah manusia berbuat baik dan melupakan akhirat…

Selengkapnya Baca Disini..

http://www.qurandanhadits.com/qanaah-tangga-menuju-kemulian-jiwa/

Iklan

Raj’ah bukan Reinkarnasi


Raj'ah-bukan-reinkarnasi Raj’ah dalam terminologi bahasa arab berarti kembali. Sementara menurut istilah adalah kembalinya sekelompok manusia setelah kematian dan sebelum hari kebangkitan, yang terjadi sezaman dengan imam Mahdi aj dan secara nalar hal ini tidak bertentangan dengan akal maupun logika wahyu.

Islam maupun agama-agama samawi lainnya memandang bahwa esensi manusia adalah mujarrad terkadang juga disebut (nafs), yang senantiasa abadi setelah binasanya badan. Dari sisi lain menurut al-Quran Sang pencipta adalah penguasa mutlak yang tidak terbatas kekuasaannya.

Peremis di atas menjelaskan bahwa persoalan raj’ah menurut pandangan akal adalah perkara yang logis. Karena jelas bahwa mengembalikan sekelompok manusia pada bentuk semula lebih mudah dari pada penciptaan awal. Dengan demikian tidak diragukan lagi bahwa Tuhan yang telah menciptakannya dari awal, mampu mengembalikannya seperti semula.

Baca lebih lanjut