Benerkah Quran itu Palsu?


Mayoritas ulama syi’ah menyakini tidak ada tahrif dalam al-Quran. Dan quran yang ada di tangan kita sekarang ini adalah kitab suci yang turun kepada Nabi Saw, yang di dalamnya tidak ada penambahan dan pengurangan. Berikut beberapa argumen yang menguatkan pendapat tersebut;

1. Allah SWT adalah penjaga al-Quran dari segalah bentuk tahrif, sebagaimana firmnaNya;
إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَ إِنَّا لَهُ لَحافِظُونَ
“Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al-Qur’an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya”.
Sudah barang tentu, orang-orang syiah yang menjadikan al-Quran sebagai landasan pemikiran dan prilakunya menyakini pesan yang dibawah ayat di atas tentang keterjagaan dan kesucian al-Quran dari tahrif.

2. Imam Ali as yang selalu bersama Nabi dan salah satu penulis wahyu dalam berbagai kesempatan mengajak kaum muslimin membaca dan mempelajari kandungan quran. Berikut ini beberapa contoh perkataan Imam Ali as;
واعلموا أن هذا القرآن هو الناصح الذي لا يغش والهادي الذي لا يضل
“Ketahuilah bahwa al-Quran ini adalah penasihat yang tak pernah menipu dan pemimpin yang tak pernah menyesatkan”.
ان الله سبحانه لم يعظ أحدا بمثل هذا القرآن فانه حبل الله المتين وسببه المبين
“Sesungguhnya Allah SWT tidak menasihati seseorang melaikan atas garis al-Quran, karena ia merupakan tali kuat Allah dan sarana-Nya yang berharga”.
ثم أنزل عليه الكتاب نورا لا تطفأ مصابيحه وسراجا لا يخبوا توقده ومنهاجا لا يضل نهجه … وفرقانا لا يخمد برهانه
“Kemudia Allah SWT mengirimkan kepada beliau (Nabi Saw) Kitab sebagai cahaya yang nyalanya tak dapat dipadamkan, suatu lampu yang sinarnya tidak redup, suatu jalan yang arahnya tidak menyesatkan … pemisah (baik dan buruk) yang hujahnya tidak melemah”.
Perkataan imam Ali as menjelaskan bahwa al-Quran adalah pelita abadi yang menerangi jalan menusia, tidak ada goncangan yang mampu memadamkannya atau tidak ada celah yang akan menyesatkan manusia.

Baca lebih lanjut

Iklan

Satu Persatu Saksi Penting Hambalang Dibunuh, Kenapa?


Satu-Persdatu-Saksi-Penting-Hambalang-Dibunuh-Kenapa?Empat saksi penting dalam kasus dugaan korupsi pembangunan Pusat Pendidikan, Pelatihan, dan Sekolah Olahraga di Bukit Hambalang, Bogor, meninggal.

Muchayat, bekas Deputi Kementerian Negara Badan Usaha Milik Negara, misalnya. Dia meninggal pada Rabu, 18 Juni 2014, karena penyakit stroke, dan mengembuskan napas terakhirnya di sebuah rumah sakit di Singapura pukul 11.30 WIB. “Benar, beliau meninggal,” kata Rafina, sekretaris Munadi Herlambang, anak kandung Muchayat, saat dihubungi, Rabu, 18 Juni 2014.

Menurut Rafina, keluarga Muchayat, termasuk Munadi, bertolak ke rumah duka di Surabaya. Hal itu dibenarkan Asman, penjaga rumah Muchayat dan Munadi di Kompleks Tanjung Barat Indah, Jakarta Selatan. “Seluruh anggota keluarga sudah berangkat ke Surabaya,” kata Asman saat dihubungi, Rabu, 18 Juni 2014.
Baca lebih lanjut