Saat Allah Tidak Mencipta


Allah-Tidak-MenciptaApakah ada suatu waktu Sang Pencipta tidak dapat meangaktualkan sifat penciptanya? Dengan kata lain, apakah ada suatu waktu dimana hanya ada Allah Swt di situ dan tiada satu pun yang ada? Dengan kata lain, apakah kondisi seperti ini dulunya ada dalam satu rentang waktu tertentu atau di masa akan datang? Apabila jawabannya positif, apakah kita akan berbicara tentang sebuah waktu dimana sifat-sifat seperti rahmat, kepenciptaan, keadilan, ihsan belum lagi ada untuk Tuhan pada waktu itu. Atau kita katakan sifat ini dulunya ada namun belum lagi teraktualisasikan. Lantas bagaimana pemilik sifat ini yang kita anggap sebagai jawad (maha pemberi) namun hampa sifat pemberian (jud) dan pencipta tanpa penciptaan? Apabila jawabannya negatif maka dalam hal ini apakah sifat azali dan abadi tidak dapat kita sandarkan pada makhluk-makhluk lainnya?

Baca lebih lanjut

Iklan

Qana’ah


Salah satu masalah yang sangat prinsip dalam kehidupan social manusia adalah qana’ah. Qana’ah merupakan sifat yang dapat mencegah manusia dari rasa tamak dan rakus terhadap dunia. Ketamakkan juga termasuk hal yang menjerumuskan manusia pada kehinaan. Rakus, tamak, cinta dunia menyebabkan manusia melakukan segala cara untuk mendapatkan dunia meskipun dirinya hina dihadapan orang lain. Sebaliknya rasa puas justru akan menghindarkan manusia dari hal tersebut dan menjadikannya mulia.

Disini, kami ingin memaparkan dasar munculnya sifat qana’ah dan hasil yang didapat secara ringkas. Karena mengetahui dasar-dasar yang melatar belakangi munculnya sifat tersebut, akan memudahkan kita untuk menapaki jejak-jejak kemuliaan.

Makna Qana’ah

Qana’ah adalah sikap rela menerima, merasa cukup dan rasa puas atas hasil yang diusahakannya serta menjauhkan diri dari rasa tidak puas dan perasaan kurang. Dalam riwayat terkadang qana’ah bermakna sikap rela secara mutlak. Sebagaimana surat imam Ali kepada Utsman bin Hanif;

Apakah saya akan puas dipanggil amirul mukminin, walaupun saya tidak turut serta dengan rakyat dalam kesukaran-kesukaran dunia?”.[1]

Dalam ilmu akhlak qana’ah lawan kata dari Hirs (rakus). Sikap puas akan menyebabkan manusia merasa cukup pada apa yang dibutuhkan dan tidak menuntut lebih. Sehingga orang yang meiliki sifat ini akan lebih banyak menghabiskan waktunya untuk mancari dan mendapatkan kemuliaan dunia dan akhirat. Sebaliknya hirs (rakus) sifat yang mendorong manusia mengumpulkan lebih dari apa yang dibutuhkan. Bahkan sifat ini dapat mencegah manusia berbuat baik dan melupakan akhirat…

Selengkapnya Baca Disini..

http://www.qurandanhadits.com/qanaah-tangga-menuju-kemulian-jiwa/