Saat Allah Tidak Mencipta


Allah-Tidak-MenciptaApakah ada suatu waktu Sang Pencipta tidak dapat meangaktualkan sifat penciptanya? Dengan kata lain, apakah ada suatu waktu dimana hanya ada Allah Swt di situ dan tiada satu pun yang ada? Dengan kata lain, apakah kondisi seperti ini dulunya ada dalam satu rentang waktu tertentu atau di masa akan datang? Apabila jawabannya positif, apakah kita akan berbicara tentang sebuah waktu dimana sifat-sifat seperti rahmat, kepenciptaan, keadilan, ihsan belum lagi ada untuk Tuhan pada waktu itu. Atau kita katakan sifat ini dulunya ada namun belum lagi teraktualisasikan. Lantas bagaimana pemilik sifat ini yang kita anggap sebagai jawad (maha pemberi) namun hampa sifat pemberian (jud) dan pencipta tanpa penciptaan? Apabila jawabannya negatif maka dalam hal ini apakah sifat azali dan abadi tidak dapat kita sandarkan pada makhluk-makhluk lainnya?

Baca lebih lanjut

Iklan

Pernikahan Anak Adam as


Pernikahan_Anak_Adam

Berkenaan dengan pernikahan anak-anak Adam terdapat dua pandangan di kalangan ulama Islam:

1.     Pada waktu itu, karena hukum keharaman pernikahan antara saudara dan saudari belum lagi diturunkan dari sisi Tuhan dan juga lantaran generasi manusia tidak dapat dipertahankan dan lestari kecuali melalui jalan ini maka pernikahan berlangsung di  antara saudara dan saudari, putra dan putri Adam.

2.     Pandangan lainnya adalah karena pernikahan dengan saudara/i yang mahram (saudara/i seibu-seayah, sesusuan) merupakan sebuah perbuatan tercela dan tidak terpuji, pernikahan anak-anak Adam antara satu dengan yang lain tidak mungkin terlaksana. Dan anak-anak Adam menikah dengan gadis-gadis dari bangsa dan generasi yang lain yang ada di muka bumi. Setelah menikah, anak-anak mereka menjadi paman atas yang lainnya, mereka melakukan hubungan suami-istri dan melalui jalan ini generasi manusia berkembang.

Dari dua pandangan ini pandangan pertama yang mendapatkan dukungan dari Allamah Thabathabai penulis Tafsir al-Mizan.

Baca lebih lanjut

Membatasi Kekuasaan Tuhan


Membatasi_Kekuasaan_Tuhan
Asya’irah memberikan perhatian khusus mengenai kekuasaan tuhan. Dan mereka juga menafikan peranan sebab-sebab kedua dan hukum-hukum pasti, dalam rangka menjaga kekuasaan mutlakNya. Sudah sepatutnya kita di sini lebih merenungkan lagi, apakah jika kita mengatakan keteraturan alam semesta berarti membatasi kekuasaan tuhan? Kemudian bagaimana dengan kekuasaan dan perbuatan tuhan dengan memperhatikan ketidak terbatasan dzat dan sifat-sifat dzatiNya? Apakah terbatas atau tidak? Jika terbatas, apakah keterbatasan ini di luar atau di dalam? bagaimanapun juga apakah keterbatasan itu melazimkan kekurangan (naqs) atau tidak? Baca lebih lanjut